Sebuah kisah Cinta Sejati, Kisah nyata yg pernah terjadi di Bumi ini…
Sekian ratus tahun yang lalu…
Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya… seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung…. hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu… namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.
Tak berapa lama kemudian….
seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana.
Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut.
Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.
Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.
Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.
Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah..
di depan pintu…
dengan udara malam yang dingin melilit…
hanya beralaskan selembar sorban tipis.
Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..
karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…
Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.
Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Pemuda itu hanya termangu diam disamping pohon kurma ditepi padang pasir di kota madinah.
Betapa hatinya tergoncang manakala dia tahu bahwa wanita itu akan dipersunting oleh sahabat seniornya sendiri yang bernama Abu Bakar. Seorang sahabat yang tidak diragukan lagi kesetiaannya pada rasul. Sahabat senior yang menemani rasul saat berhijrah dan pria soleh itu pula yang menyumbangkan seluruh hartanya untuk Islam ini tanpa sisa sedikitpun.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum. Sejak dari dulu seharusnya ia sadar harus menepis apa yang dirasakannya itu, cukuplah hanya sebatas kagum kepada wanita ahli surga yang juga putri dari orang yang sangat dikasihinya. Akhirnya ia putuskan untuk menyimpan didalam hatinya saja. Cukup dia dan Allah yang tahu. Apalagi sekarang sudah ada Abu Bakar, sekarangpun ia bisa tenang karena ada lelaki yang lebih siap dan lebih baik darinya yang meminang bidadari dunia itu.

Renungan Buat Ikhwan-Akhwat yang Berta'aruf di Dunia Maya
Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.
Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.
Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.
Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.
Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.
Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:
“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.
“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.
“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.
Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.
“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”
Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat.
“Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”
Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.
Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.
Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.
Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!
Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.
Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.
Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.
Wahai Ikhwan,
Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.
Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.
Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!
Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.
Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....
Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.
Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.
sumber : http://www.voa-islam.com/teenage/young-spirit/2010/10/10/10760/renungan-buat-ikhwanakhwat-yang-bertaaruf-di-dunia-maya/

surat cinta untuk jiwa..
Surat ini ku tujukan untuk diriku sendiri
serta sahabat-sahabat tercintaku
yang insyaAllah tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalany,
kerana hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya,
cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut
pandangan yang berbeza,
lebih bermakna dan indah..
Surat ini ku tujukan untuk hatiku
dan hati sahabat-sahabat tercintaku
yang kerap kali terisi oleh cinta selain dari-Nya,
yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia,
yang terkadang melakukan segalanya bukan kerana-Nya,
lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang
jika dilihat dan dipuji orang,entah di mana keikhlasannya.
Maka saat merasakan kekecewaan dan kelelahan
kerana perkara yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan,
padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil.
Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses..
Surat ini ku tujukan pula untuk jiwaku
serta jiwa sahabat-sahabat tercintaku
yang mulai lelah menapak jalan-Nyaketika seringkali mengeluh,
merasa dibebanibahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba
melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya..
Surat ini ku tujukan untuk ruh-kudan ruh sahabat-sahabat tercintaku
yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu,
serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati,
lalu di manakah kejujuran diletakkan?
Dan kini terabailah sudah nurani yang bersih,
saat ibadah hanyalah sebagai rutin belaka,
saat jasmani dan fikiran disibukkan oleh dunia,
saat wajah menampakkan kebahagiaan yang penuh kepalsuan.
Cuba lihat disana!
Hatimu menangis dan meranakah?..
Surat ini ku tujukan untuk diriku
dan diri sahabat-sahabat tercintaku yang sombong,
yang terkadang bangga pada dirinya sendiri.
Sungguh tiada satu pun yang membuat kita lebih di hadapan-Nya selain ketakwaan..
Padahal kita menyedari bahawa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati,
namun kita masih bergelut terus dengan kefanaan..
Surat ini ku tujukan untuk hatikudan hati sahabat-sahabat tercintaku yang mulai mati,
saat tiada getar ketika asma Allah disebut,
saat tiada sesal ketika kebaikan berlalu begitu sahaja,
saat tiada rasa takut pada-Nya ketika maksiat dilakukan,
dan tiada merasa berdosa ketika menzalimi diri sendiri dan orang lain..
Akhirnya surat ini ku tujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya..
meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam.
Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam, yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari-Nya,
"Ya..Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini pada agama-MU, pada taat kepada-Mu dan dakwah di jalan-Mu"..
Tambahkan keterangan gambar
assalamu'alaikum
Suatu perkongsian-moga dpt menghidupkan hati2 yg lesu dan layu..moga diteguhkan iman hingga saat kita bertemu dgnNy..amiin Ya Rabb
surat cinta untuk jiwa..
Surat ini ku tujukan untuk diriku sendiri
serta sahabat-sahabat tercintaku
yang insyaAllah tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalany,
kerana hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya,
cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut
pandangan yang berbeza,
lebih bermakna dan indah..
Surat ini ku tujukan untuk hatiku
dan hati sahabat-sahabat tercintaku
yang kerap kali terisi oleh cinta selain dari-Nya,
yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia,
yang terkadang melakukan segalanya bukan kerana-Nya,
lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang
jika dilihat dan dipuji orang,entah di mana keikhlasannya.
Maka saat merasakan kekecewaan dan kelelahan
kerana perkara yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan,
padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil.
Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses..
Surat ini ku tujukan pula untuk jiwaku
serta jiwa sahabat-sahabat tercintaku
yang mulai lelah menapak jalan-Nyaketika seringkali mengeluh,
merasa dibebanibahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba
melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya..
Surat ini ku tujukan untuk ruh-kudan ruh sahabat-sahabat tercintaku
yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu,
serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati,
lalu di manakah kejujuran diletakkan?
Dan kini terabailah sudah nurani yang bersih,
saat ibadah hanyalah sebagai rutin belaka,
saat jasmani dan fikiran disibukkan oleh dunia,
saat wajah menampakkan kebahagiaan yang penuh kepalsuan.
Cuba lihat disana!
Hatimu menangis dan meranakah?..
Surat ini ku tujukan untuk diriku
dan diri sahabat-sahabat tercintaku yang sombong,
yang terkadang bangga pada dirinya sendiri.
Sungguh tiada satu pun yang membuat kita lebih di hadapan-Nya selain ketakwaan..
Padahal kita menyedari bahawa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati,
namun kita masih bergelut terus dengan kefanaan..
Surat ini ku tujukan untuk hatikudan hati sahabat-sahabat tercintaku yang mulai mati,
saat tiada getar ketika asma Allah disebut,
saat tiada sesal ketika kebaikan berlalu begitu sahaja,
saat tiada rasa takut pada-Nya ketika maksiat dilakukan,
dan tiada merasa berdosa ketika menzalimi diri sendiri dan orang lain..
Akhirnya surat ini ku tujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya..
meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam.
Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam, yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari-Nya,
"Ya..Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini pada agama-MU, pada taat kepada-Mu dan dakwah di jalan-Mu"..

Dalam acara bimbingan pra-nikah yang penulis liput pada hari Sabtu lalu (27 Agustus 2005), Ustadz H. Darlis Fajar mengungkap banyak realita memprihatinkan, seputar relasi ikhwan-akhwat akhir-akhir ini.
Salah satu realita mencemaskan itu adalah pergeseran makna ta'aruf dari perkenalan biasa menjadi pacaran. Ustadz Darlis bahkan sempat juga mendapati, kasus tiga orang akhwat di-khitbah oleh ikhwan yang sama, dalam saat bersamaan. Playboy? Bisa jadi. Cuma kostumnya saja berbeda. Dari kejadian itu kita bisa melihat, betapa aturan Islam yang indah dicerabuti sekedar simbolnya saja. Dikaburkan maknanya yang luhur, sehingga ide yang tak murni Islam sebab terkontaminasi itu malah populer sebagai 'cara Islam' dimata masyarakat. Inilah dampak buruk proses komodifikasi. Buah character assasination yang sangat pengecut, jika saja para pelakunya mau merenungkan dampak perbuatan tersebut.
Melalui ta'aruf-ta'aruf-an, sebagaimana paparan diatas, “hubungan tanpa status” kembali menyaru. Dalam topeng baru yang lebih canggih, lebih halus, bak srigala berbulu domba. Pelaku malah merasa aman berlindung di balik topeng kesalehannya. Ia merasa aman dari tanggapan manusia, dan na'udzubillah, gelagatnya merasa aman juga dari pengamatan Allah 'azza wa jalla.
Selain pelecehan terhadap makna ta'aruf dan kelakuan playboy yang sungguh tak terhormat itu, ada juga laki-laki yang meng-khitbah dengan janji akan menikahi empat tahun kemudian. Jangankan empat tahun, setahun atau dua tahun, beberapa bulan tanpa kepastian saja hubungan tersebut bisa dikategorikan 'cacat.' Artinya masih bisa terjadi khalwat, yang ujung-ujungnya bisa-bisa menimbulkan tak cuma zina hati, bahkan zina fisikpun memungkinkan. Kita perlu menekuri peringatan : jika ada dua orang lain jenis bukan mahram berkumpul, yang ketiganya pasti adalah setan. Yang akan membujuk dan menipu sekuat kemampuan, sehingga rusak jalinan hubungan yang lazimnya harus diikat dengan tali kesucian. Itulah sebabnya, sampai-sampai Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (Q.S. Al Isra [17] : 32)
Kaum perempuan, setiap muslimah yang telah akil baligh dan berkeinginan menikah, sebaiknya betul-betul menimbang dulu calon yang hendak menikahi. Jangan lekas jatuh hati oleh niat khitbah yang diajukan seseorang. Karena belum tentu, lelaki yang menggunakan bahasa khitbah itu seorang yang ihsan sekaligus tekun menjalankan perintah agama. Seorang pembohong kan bisa saja kalau cuma mengatakan “Saya meng-khitbah kamu.” Jadi, selidiki dulu karakter orang dan latar belakang orang yang hendak mempersunting diri. Jangan ukhti-ukhti cepat terpikat.
Muslimahpun hendaknya bisa mengenali resiko ketika dia mengikatkan diri dalam tali khitbah. Perlu diketahui bahwa ketika seorang pria meng-khitbah dan ukhti menerimanya, itu berarti ukhti sudah mengikatkan diri. Ukhti harus memahami betul, apakah sang peng-khitbah memang ingin mengukuhkan separuh agamanya, atau hanya sekadar menancapkan kuku dominasi terhadap diri ukhti. Ingat, dominasi itu karakter pria yang genetis. Dia cenderung ingin mengklaim sesuatu sebagai miliknya, dan mesti diakui walau terkadang tanpa melalui prosedur benar. Fakta-fakta diatas menegaskan hal tersebut.
Ada seorang ikhwan ingin "memiliki" dan diakui hak miliknya, tapi dia sendiri tidak mau terikat penuh. Janjinya hanya sebatas "pengaman" bagi hak dia, tanpa memikirkan hak perempuan atau lelaki lain yang punya niatan baik. Jika ia ingin pindah ke lain hati, ya tinggal pindah saja, tanpa merasa berat. “Jangan nyimpen telor ayam di satu keranjang. Kalau pecah satu masih ada yang lain.” Itu kira-kira motto Playboy dikala memilih jodoh. Berhati-hatilah, ukhti!
***
Islam telah mengatur agar ketertipuan seperti paparan diatas tak perlu sampai terjadi. Ada koridor yang mengatur batas ta'aruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang secara etimologis berarti : berkenalan. Betul-betul perkenalan biasa. Tak ada embel-embel apapun, dan bukan ajang 'pacaran Islami' sebagaimana sering digembar-gemborkan. Pada prinsipnya, memang boleh-boleh saja berkenalan dan berteman dengan siapapun. Islam tidak mengekang niatan itu. Tapi kalau ingin hubungan lebih serius, jalurnya hanya pernikahan dan gerbangnya hanyalah peng-khitbah-an.
Lalu, bagaimana sih prosedur khitbah itu?
Sederhananya pengkhitbahan diawali dengan silaturahmi antar dua keluarga, bertemu dan meminta restu orangtua serta kesediaan akhwat yang diminati. Jika sudah bersedia, tentu ada rentang waktu antara khitbah dengan nikah. Bisa sehari sampai beberapa bulan, dan tentu saja, disarankan untuk tidak terlalu lama. Pada masa persiapan itu, barulah ikhwan-akhwat yang terikat khitbah dituntut untuk saling menjaga. Ikhwan tak boleh melamar wanita lain, akhwat tak boleh menerima pinangan dari siapapun. Jadi tak sembarangan! Kedua belah pihak dalam aturan Islam diakomodir secara baik. Lelaki bisa mengklaim sang wanita sebagai bakal milik, dan pihak wanitapun tak perlu berdiri sebagai pihak yang sengaja “diambangkan.” Wallahu a'lam bish shawab.
Kunto Wibi & AE Dompu
Penulis adalah tim redaksi cyberMQ
Tambahkan keterangan gambar
Ta'aruf Bukan Pacaran Islami!
Dalam acara bimbingan pra-nikah yang penulis liput pada hari Sabtu lalu (27 Agustus 2005), Ustadz H. Darlis Fajar mengungkap banyak realita memprihatinkan, seputar relasi ikhwan-akhwat akhir-akhir ini.
Salah satu realita mencemaskan itu adalah pergeseran makna ta'aruf dari perkenalan biasa menjadi pacaran. Ustadz Darlis bahkan sempat juga mendapati, kasus tiga orang akhwat di-khitbah oleh ikhwan yang sama, dalam saat bersamaan. Playboy? Bisa jadi. Cuma kostumnya saja berbeda. Dari kejadian itu kita bisa melihat, betapa aturan Islam yang indah dicerabuti sekedar simbolnya saja. Dikaburkan maknanya yang luhur, sehingga ide yang tak murni Islam sebab terkontaminasi itu malah populer sebagai 'cara Islam' dimata masyarakat. Inilah dampak buruk proses komodifikasi. Buah character assasination yang sangat pengecut, jika saja para pelakunya mau merenungkan dampak perbuatan tersebut.
Melalui ta'aruf-ta'aruf-an, sebagaimana paparan diatas, “hubungan tanpa status” kembali menyaru. Dalam topeng baru yang lebih canggih, lebih halus, bak srigala berbulu domba. Pelaku malah merasa aman berlindung di balik topeng kesalehannya. Ia merasa aman dari tanggapan manusia, dan na'udzubillah, gelagatnya merasa aman juga dari pengamatan Allah 'azza wa jalla.
Selain pelecehan terhadap makna ta'aruf dan kelakuan playboy yang sungguh tak terhormat itu, ada juga laki-laki yang meng-khitbah dengan janji akan menikahi empat tahun kemudian. Jangankan empat tahun, setahun atau dua tahun, beberapa bulan tanpa kepastian saja hubungan tersebut bisa dikategorikan 'cacat.' Artinya masih bisa terjadi khalwat, yang ujung-ujungnya bisa-bisa menimbulkan tak cuma zina hati, bahkan zina fisikpun memungkinkan. Kita perlu menekuri peringatan : jika ada dua orang lain jenis bukan mahram berkumpul, yang ketiganya pasti adalah setan. Yang akan membujuk dan menipu sekuat kemampuan, sehingga rusak jalinan hubungan yang lazimnya harus diikat dengan tali kesucian. Itulah sebabnya, sampai-sampai Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (Q.S. Al Isra [17] : 32)
Kaum perempuan, setiap muslimah yang telah akil baligh dan berkeinginan menikah, sebaiknya betul-betul menimbang dulu calon yang hendak menikahi. Jangan lekas jatuh hati oleh niat khitbah yang diajukan seseorang. Karena belum tentu, lelaki yang menggunakan bahasa khitbah itu seorang yang ihsan sekaligus tekun menjalankan perintah agama. Seorang pembohong kan bisa saja kalau cuma mengatakan “Saya meng-khitbah kamu.” Jadi, selidiki dulu karakter orang dan latar belakang orang yang hendak mempersunting diri. Jangan ukhti-ukhti cepat terpikat.
Muslimahpun hendaknya bisa mengenali resiko ketika dia mengikatkan diri dalam tali khitbah. Perlu diketahui bahwa ketika seorang pria meng-khitbah dan ukhti menerimanya, itu berarti ukhti sudah mengikatkan diri. Ukhti harus memahami betul, apakah sang peng-khitbah memang ingin mengukuhkan separuh agamanya, atau hanya sekadar menancapkan kuku dominasi terhadap diri ukhti. Ingat, dominasi itu karakter pria yang genetis. Dia cenderung ingin mengklaim sesuatu sebagai miliknya, dan mesti diakui walau terkadang tanpa melalui prosedur benar. Fakta-fakta diatas menegaskan hal tersebut.
Ada seorang ikhwan ingin "memiliki" dan diakui hak miliknya, tapi dia sendiri tidak mau terikat penuh. Janjinya hanya sebatas "pengaman" bagi hak dia, tanpa memikirkan hak perempuan atau lelaki lain yang punya niatan baik. Jika ia ingin pindah ke lain hati, ya tinggal pindah saja, tanpa merasa berat. “Jangan nyimpen telor ayam di satu keranjang. Kalau pecah satu masih ada yang lain.” Itu kira-kira motto Playboy dikala memilih jodoh. Berhati-hatilah, ukhti!
***
Islam telah mengatur agar ketertipuan seperti paparan diatas tak perlu sampai terjadi. Ada koridor yang mengatur batas ta'aruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang secara etimologis berarti : berkenalan. Betul-betul perkenalan biasa. Tak ada embel-embel apapun, dan bukan ajang 'pacaran Islami' sebagaimana sering digembar-gemborkan. Pada prinsipnya, memang boleh-boleh saja berkenalan dan berteman dengan siapapun. Islam tidak mengekang niatan itu. Tapi kalau ingin hubungan lebih serius, jalurnya hanya pernikahan dan gerbangnya hanyalah peng-khitbah-an.
Lalu, bagaimana sih prosedur khitbah itu?
Sederhananya pengkhitbahan diawali dengan silaturahmi antar dua keluarga, bertemu dan meminta restu orangtua serta kesediaan akhwat yang diminati. Jika sudah bersedia, tentu ada rentang waktu antara khitbah dengan nikah. Bisa sehari sampai beberapa bulan, dan tentu saja, disarankan untuk tidak terlalu lama. Pada masa persiapan itu, barulah ikhwan-akhwat yang terikat khitbah dituntut untuk saling menjaga. Ikhwan tak boleh melamar wanita lain, akhwat tak boleh menerima pinangan dari siapapun. Jadi tak sembarangan! Kedua belah pihak dalam aturan Islam diakomodir secara baik. Lelaki bisa mengklaim sang wanita sebagai bakal milik, dan pihak wanitapun tak perlu berdiri sebagai pihak yang sengaja “diambangkan.” Wallahu a'lam bish shawab.
Kunto Wibi & AE Dompu
Penulis adalah tim redaksi cyberMQ

Kawan, saat engkau bangun pagi ini, sudahkah engkau katakan cinta bagi orang-orang terdekat: Istri atau Suami? Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Adik, Kakak dan kerabatmu?
Belum, mungkin itu jawabmu. Karena di keluargamu tak ada budaya mengatakan cinta. Hingga kagok terasa bila harus mengungkapkannya.
Boro-boro, barangkali itu katamu. Sedang pagi hari semua harus ke tampat kerja dan ke sekolah, berpacu dengan waktu. Mana sempat bilang I Love U?
Kawan, saat bertemu dengan para sahabat hari ini, sudahkah engkau sampaikan cinta bagi mereka? Semua orang dekat baik di mata maupun di hati? Semua orang dekat baik karena darah maupun pertalian aqidah?
Tidak! Mungkin begitu tangkismu. Kebersamaanmu dengan mereka lebih karena tuntutan kerja dan aktifitas, mungkin itu jawabnya.
Tak biasa! Barangkali demikian kau bilang. Toh, obrolan dan jalan bersama sudah menunjukkan cinta. Hingga ia tak harus diuntai dalam kata. Sedang sikap dan perhatian lebih menunjukkan rasa yang kau punya untuk mereka.
Bisa jadi demikian halnya. Namun, alangkah indah jika engkau coba Sabda kekasihNya.
Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma'dikariba ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai Saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)
Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya, Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.”
Nabi SAW bertanya: “Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?”
Dia menjawab: “belum.”
Beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!”
Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.”
Orang itu menjawab: “Semoga kamu dicintai oleh Zat yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya” (HR Abu Daud)
Kawan, pernahkah engkau mengunjungi kerabat, saudara dan sahabat, hanya karena engkau ingin mengunjunginya? Semata karena ingin menjalin tali cinta?
Tidak sempat. Bisa jadi seperti itu alasanmu. Terlalu banyak pekerjaan dan urusan yang tak mungkin ditinggalkan.
Kawan, pernahkah engkau menelepon 'hanya' untuk sekedar bersilaturahmi? Sekedar menyapa, mendengar suara di seberang sana dan menanyakan kabarnya?
Ah, tak terpikirkan. Dapat pula itu ungkapmu. Sedang masih banyak nomor terkait kewajiban menunggu untuk dihubungi.
Mungkin ada baiknya, jika engkau dengar sabda Sang Nabi berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra, dari nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang akan berkunjung ke tempat Saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah ta'ala mengutus malaikat untuk mengujinya.
Setelah malaikat itu berjumpa dengannya ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?”
Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.”
Malaikat bertanya lagi: “Apakah kamu merasa berhutang budi padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya?
Laki-laki itu menjawab: ”Tidak. Aku mengunjunginya semata karena aku mencintainya karena Allah ta'ala."
Malaikat kemudian berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah (HR Muslim)
Kawan, sudahkah kau jabat tangan saudaramu ketika bertemu? Sudahkah kau peluk keluargamu hari ini?
Pasti, seperti itu barangkali kau sampaikan. Karena itu telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Bukan, sahabat! Karena ia adalah sesuatu yang disunnahkan. Menjadi penggugur dosa para pelakunya. Mewujudkan cinta para penghasungnya. Semoga berita yang dibawa sahabat dari sang pembawa risalah meneguhkanmu.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Nabi SAW mencium Al Hasan bin Ali ra, kemudian Aqra' bin Habis berkata: Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari 'Aisyah ra, ia berkata: “Zaid bin Haritsah dtang ke Madinah dan rasulullah SAW sedangn berada di rumahku, kemudian ia datang dan mengetuk pintu, lantas Nabi bangkit dan menarik kainnya, serta memeluk dan menciumnya.” (HR Turmudzi)
Dari Al Barra' ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ dua orang islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)
Kawan, mengatakan cinta bukanlah tabu, bahkan ia disunnahkan Al musthafa.. Engkau tidak harus romantis untuk melakukannya. Engkau tidak usah malu karena merasa sudah bukan masanya. Karena cinta tidak mengenal usia. Bolehlah ia diungkap oleh anak kepada Bapak dan ibunya, Ayah bunda pada sang putra, keponakan kepada kerabatnya. Seseorang pada sahabatnya. Terlebih bagi pasangan hidupnya. Karena cinta adalah bahasa dunia.
Maka, apa yang menghalangimu mengatakan Aku Cinta Padamu hari ini, dan menunjukkan kasih sayang pada keluarga, saudara, kaum kerabat dan sahabat?
kafemuslimah.com
Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat
Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggunganjawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.
Cinta membutuhkan proses !!! Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks, katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu.
Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru.
Yang mungkin terjadi dalam fenomena cinta pada pandangan pertama adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda.
Dalam kasus cinta pada pandangan pertama, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi.
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.
Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
Cinta itu konstruktif.
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalahsehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
Cinta tidak melenyapkan semua masalah.
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.
Cinta cenderung konstan.
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik.
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak factor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
Cinta tidak buta, tapi menerima.
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.
Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan.
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
Cinta berani melakukan hal menyakitkan.
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata tidak saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.
Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan.
Sumber: Fast.P.Querto
Di Sebuah Taman Kota Kosmopolitan 2001…
Para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Kelihatan beberapa petugas paramedik begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah kereta di taman tersebut. Nahas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragik.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad bunuh diri dengan menutup saluran ekzos kereta dengan keadaan enjin kereta masih terpasang. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman sehingga begitu sukar pihak bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu ‘mengharukan’!. Didalam kereta tersebut ditemui selembar kertas yang telah mereka tanda tangani. Antara kandungannya; tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan bagi membuktikan cinta abadi kami sehidup semati. Dan di bahagian akhir surat tersebut tercatat bahawa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta ‘sejati’ yang ‘suci’ ini kerana orang tua tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…!
Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau…
Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai isteri yang sebegitu sempurna menurut pandangan manusia.
Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lalu di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama untuk shalat berjamaah di masjid. Namun apabila beliau dapati anaknya sedang berbual-bual dengan Atikah dengan lembut dan mesra, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.
Setelah selesai menunaikan shalat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA apabila beliau dapati anaknya masih bersenda gurau dengan isterinya sebagaimana sebelum beliau menunaikan shalat di masjid. Lantas Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah, lalu bertanya : “ Wahai Abdullah, adakah kamu shalat berjamaah ?” Tanpa berpikir panjang Abu Bakar berkata : ““Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melengahkan kamu dari shalat fardlu, ceraikanlah dia!” Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar dapati anaknya mula melalaikan hak Allah. Ketika beliau dapati Abdullah mula sibuk dengan isterinya yang cantik. Ketika beliau dapati Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.
Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa berdolak dalih apatah lagi cuba membunuh diri, Abdullah terus menyahut perintah ayahandanya dan menceraikan isteri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!!
Dari dua petikan kisah di atas, marilah kita sama-sama merenung tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati , tulus dan suci itu sebenarnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan warna-warna cinta. Malah boleh kita ungkapkan bahawa kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT mencampakkan suatu perasaan di dalam jiwa manusia, itulah CINTA.
Membicarakan tentang cinta ibarat menuras air lautan dalam yang kaya dengan pelbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan sentiasa menemui berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin menemui bangkai kapal dan bangkai manusia!!!
Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan digelar.
Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, filem, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi sahaja. Versi cinta nafsu (syahwat) dan cinta Rabbani.
Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani?
Derasnya arus ghazwul fikr (serangan pemikiran) dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta “suci” yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.
Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragik yang berakhir di hujung pisau atau dalam segelas ‘penawar’ rumpai. Mereka semua rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.
Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of love) mampu menjadikan manusia peribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan lelaki dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan berahi percuma di khalayak ramai apatah lagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (na’udzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah iaitu membunuh diri demi cinta.
Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh itu tidak hairanlah jika kita temui pelbagai kelakuan aneh para pencari cinta yang tak masuk akal. Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengertikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai, kerana Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul ‘Alamin.
Kisah tragik di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan pelbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan laknatulllah. Pada momen ini syaitan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan kerana berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahannan dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.
Sebuah kisah lain tentang tragedi cinta dan kebodohan manusia yang amat memalukan berlaku di Dhaka. Menurut laporan berita salah satu akhbar ibu kota di negeri tersebut, seorang ayah dan anaknya mati saling tikam menikam hanya kerana merebut cinta seorang gadis. Tragedi bermula apabila si gadis tidak tahu bahawa dua lelaki yang sering menjadi teman asmaranya pada waktu yang berbeza adalah ayah dan anak. Sampailah pada suatu saat mereka terserempak pada waktu yang sama. Maka tragedi pun bermula. Kedua-duanya sangat marah sehingga membawa kepada pertengkaran dan akhirnya pergelutan dan perkelahian yang berakhir dengan si ayah mati akibat tertusuk di perutnya. Namun sebelum rebah ia berjaya menancapkan belati di jantung anaknya. Matilah keduanya. Dan pastilah neraka tempat kembalinya.
Itulah tragedi cinta. Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Kerana yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal fikirannya.
Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan peribadi-peribadi yang mengagumkan. Peribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu. Namun kerana cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi keredhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana kerana kehilangan cinta duniawi kerana Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman Peribadi-peribadi taat ini amat menyedari bahawa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada ertinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah redha dan cinta Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.
Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal erti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki isteri yang amat cantik, berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun apabila ayahandanya memerintahkan untuk menceraikan isterinya, dengan alasan isterinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah seterusnya akan melengahkan Abdullah berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah? Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia rela menceraikan isteri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta dengan Allah. Subhanallah… Masih adakah pemuda-pemuda seperti peribadi Abdullah di zaman globalisasi kini?
Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selari dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.
Sumber : Mihwar
Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?"
"Tidak," jawab Rabiah dengan suara sangar.
Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, "Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?"
"Pasti," jawab Rabiah dengan tegas.
Lalu ia menjelaskan, "Kalau Tuhan tldak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata "akan" atau "andaikata" sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu."
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, "Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?"
Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa.
"Ya Allah," seru Ismail, "anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya." Lalu Ismail menggumam, "Amin."
Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, "Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, "Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu ger- bang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu."
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, "Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu."
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, "Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu."
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, "Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: "Apakah engkau akan menikah kelak?"
Rabiah mengelak, "Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah."
"Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?"
"Karena telah kuberikan seluruh hidupku," ujar Rabiah.
"Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?"
Dengan tulus Rabiah menjawab, "Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan."
sumber : alsofwa.or.id
Kamu pernah dapat surat cinta? Gimana rasanya waktu membaca? Kayaknya,pas mau buka aja udah deg-degan nggak karuan. Apalagi pas baca ya. Bahkan kalau surat cinta itu datang dari orang yang diam-diam kita taksir juga,wuih…..diulang-ulang deh bacanya! Kalah deh sama acara ngapalin pelajaran sejarah yang bahannya sejibun dan besok jelas-jelas mau ulangan.
Nah, gitu tuh…..reaksi manusia secara alamiah ketika mendapat perhatian dari orang yang ia kagumi,sayangi atau cintai. Daripada ngelantur ngomongin cinta yang belom tentu juga membawa keselamatan,bahkan jangan-jangan membawa kita ke jurang neraka,mendingan kita coba buka sebuah surat cinta paling tebal didunia. Ehm……surat cinta siapa tuh???
TERINDAH
Dialah Al Qur’an, sebuah kitab suci bukti cinta Allah SWT kepada kita hamba-hambaNya. Mengapa Allah menurunkan kitab suci yang hingga kini masih dijaga keasliannya ini?
Yup!! Jawabannya adalah karena Dia tak ingin kita tersesat sehingga nggak menemukan kebahagiaan dunia apalagi akhirat. Bayangin aja,saking cintanya Allah sama kita, sampai-sampai surat cintaNya itu isinya lengkaaaaaaap banget!!!
Qur’an yang berarti bacaan ini secara lebih luas dimaknai sebagai Kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW sebagai mukjizat,yang akan membawa ummat manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat. Indah kan?
Belum lagi kalau kamu telaah isinya. Baik dari tata bahasa yang digunakan,susunan kata-kata,rasa bahasa,dan maknanya. Bikin kamu ketagihan buat membacanya,lagi dan lagi!!!
Kedalaman maknanya membuat kita bahkan bisa merenung, menangis, atau tersenyum bahagia. Coba, mana ada surat cinta atau novel karya sastra sekalipun yang bisa bikin kita begitu rupa? Nggak percaya? Makanya buruan buka dan baca, kalau perlu sama terjemahannya sekalian.
Bingung?? Coba kamu diskusikan dengan teman atau orang tua yang lebih paham. Kata Muhammad Iqbal, perumpamaan membaca Qur’an itu, setiap hari selalu bertambah makna dan kedalaman isi yang akan selalu kita temukan. So, jangan berhenti untuk terus mengkaji Qur’anmu sedikit demi sedikit, kalau bisa malah tiap hari!!
TERLENGKAP
Al Qur’an terdiri dari 114 surat yang diturunkan dalam dua periode, Makkah dan Madinah.
Ayat-ayat Makkiyah terdiri dari 19/30 bagian darinya, yang terdiri dari 86 surat. Ayat-ayat Madaniyah yang terdiri dari 11/30 bagian isi Qur’an meliputi 28 surat.
Saking lengkapnya,disamping belajar baca Qur’annya,kita juga akan lebih cihuy lagi kalau bisa juga belajar tentang sejarahnya, kodifikasinya, dasar-dasar sistem yang digunakannya, mukjizat- mukjizatnya, juga tata bahasanya. Wuih, bener-bener samudra ilmu deh.
Urutan turunnya ayat-ayat dalam Al Qur’an terpencar. Adakalanya karena ada sebuah peristiwa atau kasus yang menyebabkannya turun, namun sebagian besar turun tanpa sebab-sebab khusus. Setiap turun ayat yang baru, Rasulullah SAW selalu memerintahkan mencatat dan menggandengkannya dengan ayat-ayat yang beliau tunjukkan sendiri. Beliau memiliki beberapa orang sekretaris untuk mencatat dan juga selalu mengadakan persesuaian bacaan dengan Jibril setiap kali turun ayat, disamping selalu mengadakan pengecekan atas bacaan para sahabatnya (murajaah).
Penyusunan lebih lanjut Qur’an sehingga seperti yang kita baca sekarang ini dilakukan oleh sebuah panitia penyusunan mushaf yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit ra, pada masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan ra.
Al Qur’an menjadi sumber utama seluruh ajaran Islam. Ia adalah wahyu Allah terakhir yang menjadi rahmat, hidayah dan obat bagi seluruh manusia ( QS. Al Israa’ ; 82 ). Ia memuat seluruh aturan hidup manusia, dari mulai urusan menjaga aqidah, kebersihan, hingga urusan nikah dan hutang piutang. Lengkap, deh!! Nggak heran kalau dikatakan bahwa Al Qur’an sesuai dengan fitrah manusia.
Ia membimbing manusia mengenal Tuhannya, dengan penghargaan yang tinggi terhadap rasio. Ia menyuruh manusia menyelidiki alam semesta,juga dirinya sendiri ( QS. Yunus ; 101 ).
Seorang penulis Italia, Laura Ceccia Vaglieri berkata, “Bacalah buku ini ( Al Qur’an ), ia tidak membosankan, bahkan dengan mengulang- ulang membacanya akan bertambah kecintaan kita. Ia memberikan perasaan hormat yang mendalam dan juga wibawa.”
TERHEBAT
Disamping karena gaya bahasanya yang indah, Al Qur’an juga sangat hebat dari segi isi dan ramalan-ramalannya. Jauh lebih hebat dari ramalannya Nostradamus ataupun Jayabaya. Ramalannya tentang akan ditemukannya mayat Fir’aun (QS. Yunus ; 92) terbukti dengan ditemukannya mummi raja kejam tersebut pada 21 abad kemudian, tahun 1881. Nggak mungkin toh kalau Al Qur’an itu dibuat oleh manusia (QS. Al Israa’ ; 88). Allah sendirilah juga yang akan menjaganya sepanjang masa agar tidak ada yang bisa merubah, menambah atau menguranginya.
Al Qur’an juga adalah kekuatan ruhaniyah yang sangat hebat. Hanya dengan mengamalkan Al Qur’an kita dapat menjadi orang-orang yang berpikiran maju dan seimbang dunia akhirat. Ia juga obat bagi ruhani kita. Ia adalah nur petunjuk yang menerangi jalan kita. Ia adalah rahmat dan nikmat bagi mereka yang sedang berjuang menegakkan kebenaran.
Jadi, sebelum kamu sekalian nyesel seumur hidup gara-gara nggak sempet kenal sama kitab sucimu sendiri, mendingan dari sekarang deh belajar lebih jauh tentang Al Qur’an. Alhamdulillah, kalau suatu saat kelak kamu bahkan bisa membantu menjaganya yaitu dengan menghapalkannya….amiiin…… (ifa avianty)
Maroji’ : Hanif
Ketika kita didudukan dalam situasi untuk memilih, tentu naluri kemanusiaan kita akan memilih yang terbaik (best of the best). Lalu bagaimana jika justru ketika pilihan tersebut tidak ada yang memenuhi kriteria kita, haruskah kita tinggalkan dan mencari pilihan lain? Bagaimana jika seandainya pilihan tersebut mutlak yang terakhir? Dan bagaimana jika seandainya pilihan tersebut adalah suatu keputusan yang justru berimplikasi terhadap masa depan kita? Bagaimana seandainya jika justru pilihan tersebut adalah ujian dari Allah Swt sebagai wujud dari kasih sayang-Nya terhadap kita?
Banyak cerita di sekeliling kita yang dapat dijadikan bahan renungan tentang makna pilihan, dan buntutnya tentu masalah cinta. Jangan berpikiran sempit dulu tentang cinta itu sendiri. Cinta bukan hanya cinta antara pasangan suami istri (pasutri), atau cinta antara anak dan orang tua, namun juga termaktub cinta kepada suatu barang, misalnya buku dan lainnya. Bahkan ada seseorang yang sangat mencintai idola-nya, entah itu seorang artis atau aktor film.
Bukan suatu kebetulan jika saya mengetengahkan makna cinta ini kok sepertinya berhubungan dengan hari 'valentine' yang sebentar lagi tiba. Jujur saja saya sudah tidak ambil pusing dengan perayaan tersebut semenjak saya tahu bahwa perayaan hari valentine itu sangat jauh dari nilai islami. Bagi saya, cinta itu bersifat universal yang berhak dimiliki dan dinikmati oleh setiap makhluk hidup di bumi Allah ini tanpa batas waktu dan jarak.
Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan kepada suatu keharusan untuk memilih satu dari dua pilihan yang ada? Sudahkah kita memaknai bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah Swt untuk kita, bukan sebaliknya.
Suatu kali pernah seorang teman bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang bermasalah. Namun sayangnya hal tersebut dijadikan alasan oleh sang teman untuk membalas-dendam dengan, maaf, berselingkuh dengan orang lain. Saya pun kerap bertanya kepada diri saya sendiri, bukankah ketika kita memutuskan menikahi pasangan kita adalah suatu pilihan yang pasti terbaik dari segala pilihan yang ada?
Tapi tunggu dulu, terbaik menurut siapa?
Allah Swt menganugerahi setiap manusia sebuah bonus yang bernama 'akal', mengapa saya katakan 'bonus' karena selain manusia, makhluk lain (hewan dan tumbuhan) tidak dianugerahi hal yang sama. Selain itu, sebagai manusia kita pun dianugerahi 'titel' khalifah (di bumi) oleh Allah Swt.
"Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi". (Faathir:39)
Kembali kepada cerita seorang teman di atas, salahkah dia dengan pilihan hatinya? Salahkah dia ketika meresa kecewa karena pilihannya ternyata jauh dari apa yang dia impikan? Atau ketika dia diberikan pilihan, sudahkah dia memutuskan memilihnya dengan atas nama Allah?
Suami selalu mengingatkan saya untuk tidak terlalu mencintainya kalau bukan karena Allah Swt, karena ketika suatu saat Allah memanggil suami, tidak ada lagi cinta dan tempat bernaung yang tersisa, karena kesemua cinta yang ada sudah dibawanya pergi. Namun, ketika ketika kita mencintainya atas nama Allah, badai rintangan apapun yang menghadang, kita masih dapat berlindung di bawah kasih sayang-Nya karena hanya Allah Swt yang mampu memberikan kesempurnaan perlindungan.
Keputusan sang teman untuk berselingkuh, jelas meletakkan nafsu di atas akal. Bukan hanya tidak akan memecahkan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akal pun dikorbankan atas nama nafsu semata.
Saya teringat ketika adzan maghrib berkumandang, sebagian kita mungkin sedang asyik menyimak berita demonstrasi di sebuah liputan berita nasional di televisi. Dan pilihan kembali disorongkan kepada diri kita. Mematikan televisi dan langsung berwudhu atau mentolerir diri kita dengan 'pembenaran', tokh beritanya tinggal lima menit, dan terus menonton. Kembali akal pun kita korbankan atas nama 'tinggal lima menit' ketika kita diberikan suatu pilihan di hadapan kita.
Bangun di waktu subuh ketika adzan berkumandang adalah satu pilihan terberat bagi sebagian orang yang lemah iman. Ketika orang lain sudah melangkah menuju surau/masjid di sisi lain kita mungkin masih enggan beranjak dari dalam selimut. Tidak hiraukan seruan dari surau.... ash shalatu khairun minan naum...
****
Cinta kepada orang lain melebihi cinta kepada suami, cinta kepada liputan berita daripada mendirikan sholat maghrib dan cinta kepada kehangatan selimut kita daripada bergegas ke surau adalah suatu pilihan yang diberikan Allah Swt bagi kaum yang berakal. Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang yang berakal? Sudah pantaskah kita menjadi khafilah di bumi Allah ini?
Marilah kita bersegera sujud memohon ampun kehadirat-Nya atas segala keterlenaan kita dan atas keterbiusan kita akan gemerlap duniawi yang sebenarnya tiada kekal. "Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah:269)
Lalu, cinta manakah yang akan Anda pilih? Wallaahu'alam bishshowab.
(Rosanti K Adnan/yose@ratelindo.co.id)
eramuslim.com