Iqro Club Mataram, The New Moslem Generation
iqro club kota mataram. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Assalamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh, Selamat Membaca Artikel IC Mataram
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Menikmati Tantangan Hidup : Dari Rasulullah SAW hingga Bill Gates

Oleh Dea Tanyo Iskandar
"Saya tidak pernah bekerja seharipun dalam hidup saya. Semuanya hanyalah keasyikan yang menyenangkan". (Thomas Alva Edison)
Ada masa-masa ketika hidup kita dibebani dengan berbagai tugas yang mesti diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Pada saat itu mungkin menjadi masa-masa saat jiwa kita merasakan adrenalin yang tak seperti biasanya.
Pernahkah Anda merasakan hidup yang semakin berat karena tumpukan pekerjaan? jiwa terdesak-desak? Nafas yang berat tersengal-sengal? atau dada yang terasa semakin menyempit karena beban tugas dan pekerjaan? Banyak dari kita tentu pernah merasakan hal itu.

Senin, 28 November 2011

Mereka Yang Kian Menjadi Setelah Pulang Dari Haji (2)




Ada yang menarik dari para ulama nusantara yang berhaji ke Mekkah, yakni kebiasaan mereka berhaji selagi muda. Jika Syekh Yusuf Al Makassar berhaji pada umur 18 tahun, maka Muhammad Darwis alias KH. Ahmad Dahlan menginjakkan kaki di Mekkah pada umur 15 tahun.
Lima tahun lamanya ulama kelahiran 1868 ini mengabiskan waktu di Mekkah. Disana KH. Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.
Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini pula, KH. Ahmad Dahlan sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari.

Mereka Yang Kian Menjadi Setelah Pulang Dari Haji (1)

Mekkah Tahun 1937


“Semakin banyak peziarah yang berangkat ke Makkah, semakin meningkatlah fanatisme (Keislaman).” -Koran De Locomotief, 1877-
Seratusan tahun lalu sejak kalimat tersebut dimuat di Koran Hindia Belanda De Locomotief (terbit pertama kali di semarang 1845), umat Islam di Indonesia pernah merasakan bagaimana momentum haji begitu berpengaruh dalam diri pribadi. Ditakuti oleh musuh-musuhNya, tapi dicari-cari oleh perindu tuntunanNya. Tidak ada kisah jema’ah pulang haji menjadi pencuri. Tak ada pula mereka yang setiba dari Tanah Suci kemudian mendekam di bui karena kasus korupsi. Haji adalah momentum suci untuk membawa misi Islam ke dalam negeri.
Padahal pergi berhaji di masa lalu sangatlah sulit. Tiap-tiap jama’ah haji terpaksa merogoh kantong lebih dalam. Tidak jarang mereka menjual hasil apa saja. Baik dari hasil perkebunan, pertanian, maupun perdagangan. Sebab pada awal abad 20, ongkos haji sendiri berkisar antara 570 sampai 856 gulden.

Kepal Tangan, Potensi dan Menembus Batas

Pernahkah anda melihat bayi yang baru lahir hingga umurnya empat puluh hari? Apa perilaku tubuhnya yang anda lihat? Jika belum pernah, cobalah untuk melihatnya. Ternyata, setiap bayi yang lahir ke dunia ini, perilaku yang pertama kali dilakukannya selain menangis adalah mengepal tangan. Kenapa harus mengepal tangan? Apa rahasianya?
Subhanallah, ternyata, itu merupakan tanda bahwa setiap manusia dilahirkan ke dunia ini diberikan sifat manusia unggul: optimis dan pantang menyerah. Kedua sifat itu dapat dirasakan saat kita berusaha untuk membuka kepalan tangannya. Sekalipun kita berhasil membukanya, tapi toh sang bayi akan kembali mengepal tangannya seperti semula. Cukup menakjubkan, bukan?
Ya, itulah rahmat Allah yang diberikan kepada semua manusia tanpa pernah memperhatikan statusnya, baik muslim maupun kafir. Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya. Jadi, rahmat yang termasuk kategori pertama diberikan Allah Swt. adalah potensi untuk tidak pernah menyerah dan putus asa. Allah senantiasa memberikan rahmat kepada manusia untuk menembus batas kehidupan ini. Bahkan dapat dikatakan, bahwa setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki potensi untuk unggul. Hingga dengan potensi tersebut manusia bisa ‘menembus batas’ antara kemampuan manusia yang satu dengan yang lainnya.

Senin, 31 Oktober 2011

Pemburu (Shaf) Pertamax!

Oleh Khomsun Arifin
Siang itu suasana di Masjid sebuah kantor di pinggir laut utara Jakarta lumayan ramai menjelang sholat Dzuhur dilaksanakan.
Iqamat pun dikumandangkan
“Silakan Pak, shaf depan bapak tempati.” Kata Pak Doni.
“Ah, bapak saja yang maju ke shaf pertama.” Kata rekan di sebelahnya yang bernama Pak Aji.
Memang shaf pertama saat itu sudah hampir penuh, namun masih ada beberapa yang kosong.
“Ayo, silakan bapak saja.” Pak Doni merasa ga enak untuk maju duluan, karena memang Pak Aji adalah atasannya.
Di tengah kesibukan mereka saling mempersilakan, tiba-tiba nyelononglah seorang anak muda yang langsung mengisi shaf pertama itu.
Sambil nengok ke kedua bapak itu, si anak muda berkata,“Maaf Pak, (shaf) PERTAMAX telah diamankan.”
***

Jumat, 14 Oktober 2011

Paku Di Tiang

Beberapa ketika yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan suruhan agama. Meskipun telah berbuih ajakan dan nasihat,suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa dan lain-lain amal kebajikan, dia tetap meninggalkannya.Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi kebiasaannya.

Kaki judi, kaki botol, dan seribu satu macam jenis kaki lagi menjadi kemegahannya. Suatu hari ikhwah tadi memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ni terlalu sangat lalai dan berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan pacakkan satu paku tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan,maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini."

Bapanya berbuat sepertimana yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.

Sabtu, 10 September 2011

Akhir Dari 2 Kagum Yang Tak Tersampaikan

Pemuda itu hanya termangu diam disamping pohon kurma ditepi padang pasir di kota madinah.
 Betapa hatinya tergoncang manakala dia tahu bahwa wanita itu akan dipersunting oleh sahabat seniornya sendiri yang bernama Abu Bakar. Seorang sahabat yang tidak diragukan lagi kesetiaannya pada rasul. Sahabat senior yang menemani rasul saat berhijrah dan pria soleh itu pula yang menyumbangkan seluruh hartanya untuk Islam ini tanpa sisa sedikitpun.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum. Sejak dari dulu seharusnya ia sadar harus menepis apa yang dirasakannya itu, cukuplah hanya sebatas kagum kepada wanita ahli surga yang juga putri dari orang yang sangat dikasihinya. Akhirnya ia putuskan untuk menyimpan didalam hatinya saja. Cukup dia dan Allah yang tahu. Apalagi sekarang sudah ada Abu Bakar, sekarangpun ia bisa tenang karena ada lelaki yang lebih siap dan lebih baik darinya yang meminang bidadari dunia itu.

Hebat !! Inilah Bintang-bintang Top Dunia Yang Bertahan Demi Sebuah Keyakinan

Ketika ayat-ayat Alquran sudah melekat kuat dalam hati seseorang, tidak seorang pun yang dapat mengubah keyakinan tersebut. Walaupun hal itu harus mengorbankan karir, ketenaran, dan sebagainya.

Untuk menjadi bintang top dunia, khususnya di bidang olah raga, seseorang yang sudah mendapat hidayah Allah swt, tidak harus melepas jati diri sebagai Muslim yang taat. Bila iman sudah menancap ke dalam lubuk hati seorang Muslim, maka banyaknya uang, harta, ketenaran dan berbagai tawaran dunia yang menggiurkan tidaklah sebanding nilainya dengan jati diri sebagaiMuslim taat.

Paling tidak, inilah yang dirasakan oleh beberapa bintang top Muslimdi dunia olah raga :

Jumat, 15 April 2011

Anak Anjing

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi anak- anak kecil, "Dijual Anak Anjing".

Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu menjawab, "Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing- anjingnya.

Jumat, 11 Februari 2011

Orang-Orang yang Ditolong Allah dalam Kesulitan

Abdullah bin Umar ra. menceritakan, ia mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa telah pergi tiga golongan dari orang orang sebelum kamu. Mereka menemukan sebuah gua tempat bermalam, dan merekapun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh menutup pintu gua, sehingga mereka terkurung di dalamnya.
"Tidak ada yang dapt melepaskan kita dari bencana batu ini, melainkan apabila kita mendoa kepada Allah SWT dengan amal salehmu," kata salah seorang dari mereka.

Mulailah salah seorang di atanra mereka memanjatkan doa. "Ya Allah aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua. Biasanya aku tidak mau memberi minum keluarga dan hamba sahayaku, sebelum keduanya selesai minum. Pada suatu hari aku pergi mencari sesuatu, dan beberapa waktu lamanya kemudian aku kembali kepada keduanya sehingga mereka tertidur. Lalu aku memerah susu untuk mereka tetapi setelah kudapati keduanya masih tidur. Aku tidak mau memberikan minuman itu kepada keluarga dan sahayaku, sebelum kedua orang-tauaku itu minum lebih dulu. Lalu aku menunggu beliau berdua bangun dari tidurnya, sedangkan gelas susu tetap kupegang hingga keduanya bangun saat fajar telah menyingsing. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman yang telah kusediakan itu. Ya Allah, jika aku berbuat demikian benar-benar karena mencari ridho Engkau, maka bukakanlah untuk kami batu itu.

Maka bergeserlah batu itu sedikit.

Kemudian seorang lagi dari mereka mulai berdoa "Ya Allah, ada seorang gadis cantik yang sangat kucintai. Ia anak pamanku sendiri. Pada suatu waktu aku menginginkan dirinya, tetapi ia menolak permintaanku. Satu tahun kemudian ketika menghadapi musim kemarau, ia datang kepadaku dan aku memberikan kepadanya 120 dinar suapaya ia mau bersenang-senang dengaku. Permintaanku itu diturutinya. Namun sewaktu aku telah berduaan dengannya dan akan melampiaskan hajatku. Ia mengingatkan: kularang kamu merusak kesucianku kecuali dengan cara yang benar (yakni setelah nikah). Karena itu aku tidak jadi menuruti nafsuku. Lalu aku pergi meinggalkannya, meski aku sangat mencintai dan menginginkannya. Dinar yang telah kuberikan kepadanya juga kutinggalkan semua untuknya. Ya Allah jika perbuatanku ini sesuai dengan ridhamu, maka bukakanlah pintu gua ini".

Kemudian batu yang berada di pintu gua itu bergeser sedikit.

Akhirnya orang ketiga dari mereka itu mulai berdoa. "Ya Allah aku pernah mengupah beberapa orang bekerja dan telah kubayar lunas upah mereka kecuali satu orang yang pergi tanpa mengambil upahnya. Kemudian upahnya itu aku gunakan untuk usaha. Beberapa waktu kemudian dia datang kembali meminta upahnya. Aku katakan padanya, bahwa semua biri-biri, unta, dan sahaya it uadalah upahnya.

Ia katakan, "Hai hamba Allah, jangnlah kamu mengolok-olok aku", Aku jawab: "Sungguh aku tidak mengolok-olok Kamu". Maka diambilnya harta itu semuanya tanpa satupun yang ditinggalkannya.

"Ya Allah, apabila yang demikian itu kulakukan semata-mata karena mencari ridha-Mu, mohon bukakanlah pintu ga ini untuk kami."

Kemudian batu di pintu gua itu bergeser lebih besar lagi, sehingga mereka bertiga dapat keluar dari gua tersebut.

Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa orang yang berbakti kepada orang tuanya, orang yang dapat menjaga nafsu, dan juga orang yang jujur/tidak zhalim adalah orang-orang yang ditolong oleh Allah swt dalam masa kesulitan.

Cerita ini disarikan dari bagian buku : Ridho Allah tergantung Ridho Orang Tua. Syamsul Rijal Hamid. Penerbit Cahaya Salam


kafemuslimah.com

Minggu, 23 Januari 2011

Dosa Yang Membukakan Pintu Surga

Hidup ini hanya curahan rahmat, kasih sayang dan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Betapapun keadaannya. Bagaimanapunkondisinya. Setiap sis, dinding, celah dan rongga kehidupan ini sepenuhnya tak ada yang kosong dari kemurahan dan kasih sayang Allah SWT. Kita memang tak punya modal atau andil apapun dalam kehidupan ini. Karenanya, bersyukur dan berterima kasihlah pada Allah atas semuanya.
Kalaupun ada amal-amal kebaikan yang kitalakukan dalam hitup, itu juga tak pernah lepas dari karunia Allah dan dengan pertolongan-Nya. Karena kita pasti beramal dengan pendengaran, penglihatan, pikiran, kekuatan, kesehatan, anggota tubuh, yang semuanya semata-mata adalah nikmat dan karunia Allah. Pantas dan sangat agung sekali perkataan Ahli surga yang dikutip Al Qur`an: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (QS. Al A'raf : 43). Mereka bersyukur pada Allah yang telah membimbing mereka melakukan amal-amnal shalih dan memasukkan mereka ke dalam kenikmatan surga yang abadi.

Karena itu saudaraku, Jangan pernah puas beramal. Jangan pernah berhenti beramal karena menengok dan menghitung amal dan ketaatan yang telah kita lakukan. Karena memperhatikan amal-amal kebaikan bisa menumbuhkan perasaan cukup dan kemudian menjadikan kita merasa puas. Padahal rasa puas itulah yang akan melemahkan semangat dan menghancurkan nilai-nilai amal itu sendiri. Ingatlah, kita tidak pernah tahu nilai dan kualitas amal itu di hadapan Allah SWT. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah perah menyinggung masalah ini. Katanya, setiap amal baik yang dilakukan, pasti ada bagian dari nafsu dan syetan di dalamnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW saat ia ditanya mengenai orang yang menoleh ke arah lain dalam shalatnya. Kemudian Rasul menjawab, "Itu adalah rampasan yang dilakukan syetan terhadap shalat seseorang..." (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai dan Al Hakim). Ibnu Mas'ud mengomentari hadits ini dengan mengatakan, "Bagian kecil dan sedikit itu dianggap sebagai keuntungan dan andil bagi syetan terhadap sholat seseorang. Bagaimana dengan amal-amal yang lainnya?"

Saudaraku, Ada alasan lain kenapa kita dianjurkan untuk tidak menghitung-hitung ketaatan dan kebaikan yang telah dilakukan. Seorang salafushalih pernah mengatakan, "Adakalanya seorang melakukan kesalahan kemudian lalu masuk surga dan adakalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu ia masuk neraka." Orang-orang yang mendengarkannya bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab, "Dia berbuat dosa dan dosa itu selalu tampak di matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan ia selalu teringat dengan dosanya itu lalu membuat hatinya hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan kepada Allah, sehingga keadaan itu menjadikannya selamat. Sementara orang yang melakukan kebaikan, selalu melihat kebaikan itu di depan matanya. Jika ia berdiri, duduk dan berjalan ia selalu ingat dengan kebaikan yag ia lakukan, sehingga ia menjadi takabbur ujub dan merasa telah mendapatkan karunia Allah SWT. Padahal kondisi itu menjadi sebab kebinasaannya.

Sungguh dalam makna perkatan yang diuraikan Ibnul Qayyim menanggapi perkataan salafushalih itu. "Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seseorang hamba, maka Dia bisa saja akan memberinya dosa yang membuat hatinya hancur, kepalanya merunduk, tidak ujub dan tidak takabbur sehingga dosa ini lebih bermanfaat dari sekian banyak ketaatan. Taubatnya inilah yang akan menyelamatkannya. Seperti obat yang diminum untuk mengeluarkan penyakit di dalam tubuh." Hidup ini hanya curahan rahmat, kasih sayang dan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Betapapun keadaannya. Bagaimanapunkondisinya. Setiap sis, dinding, celah dan rongga kehidupan ini sepenuhnya tak ada yang kosong dari kemurahan dan kasih sayang Allah SWT. Kita memang tak punya modal atau andil apapun dalam kehidupan ini. Karenanya, bersyukur dan berterima kasihlah pada Allah atas semuanya.

Kalaupun ada amal-amal kebaikan yang kitalakukan dalam hitup, itu juga tak pernah lepas dari karunia Allah dan dengan pertolongan-Nya. Karena kita pasti beramal dengan pendengaran, penglihatan, pikiran, kekuatan, kesehatan, anggota tubuh, yang semuanya semata-mata adalah nikmat dan karunia Allah. Pantas dan sangat agung sekali perkataan Ahli surga yang dikutip Al Qur`an: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (QS. Al A'raf : 43). Mereka bersyukur pada Allah yang telah membimbing mereka melakukan amal-amnal shalih dan memasukkan mereka ke dalam kenikmatan surga yang abadi.

Karena itu saudaraku, Jangan pernah puas beramal. Jangan pernah berhenti beramal karena menengok dan menghitung amal dan ketaatan yang telah kita lakukan. Karena memperhatikan amal-amal kebaikan bisa menumbuhkan perasaan cukup dan kemudian menjadikan kita merasa puas. Padahal rasa puas itulah yang akan melemahkan semangat dan menghancurkan nilai-nilai amal itu sendiri. Ingatlah, kita tidak pernah tahu nilai dan kualitas amal itu di hadapan Allah SWT. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah perah menyinggung masalah ini. Katanya, setiap amal baik yang dilakukan, pasti ada bagian dari nafsu dan syetan di dalamnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW saat ia ditanya mengenai orang yang menoleh ke arah lain dalam shalatnya. Kemudian Rasul menjawab, "Itu adalah rampasan yang dilakukan syetan terhadap shalat seseorang..." (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai dan Al Hakim). Ibnu Mas'ud mengomentari hadits ini dengan mengatakan, "Bagian kecil dan sedikit itu dianggap sebagai keuntungan dan andil bagi syetan terhadap sholat seseorang. Bagaimana dengan amal-amal yang lainnya?"

Saudaraku, Ada alasan lain kenapa kita dianjurkan untuk tidak menghitung-hitung ketaatan dan kebaikan yang telah dilakukan. Seorang salafushalih pernah mengatakan, "Adakalanya seorang melakukan kesalahan kemudian lalu masuk surga dan adakalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu ia masuk neraka." Orang-orang yang mendengarkannya bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab, "Dia berbuat dosa dan dosa itu selalu tampak di matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan ia selalu teringat dengan dosanya itu lalu membuat hatinya hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan kepada Allah, sehingga keadaan itu menjadikannya selamat. Sementara orang yang melakukan kebaikan, selalu melihat kebaikan itu di depan matanya. Jika ia berdiri, duduk dan berjalan ia selalu ingat dengan kebaikan yag ia lakukan, sehingga ia menjadi takabbur ujub dan merasa telah mendapatkan karunia Allah SWT. Padahal kondisi itu menjadi sebab kebinasaannya.

Sungguh dalam makna perkatan yang diuraikan Ibnul Qayyim menanggapi perkataan salafushalih itu. "Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seseorang hamba, maka Dia bisa saja akan memberinya dosa yang membuat hatinya hancur, kepalanya merunduk, tidak ujub dan tidak takabbur sehingga dosa ini lebih bermanfaat dari sekian banyak ketaatan. Taubatnya inilah yang akan menyelamatkannya. Seperti obat yang diminum untuk mengeluarkan penyakit di dalam tubuh." Hidup ini hanya curahan rahmat, kasih sayang dan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Betapapun keadaannya. Bagaimanapunkondisinya. Setiap sis, dinding, celah dan rongga kehidupan ini sepenuhnya tak ada yang kosong dari kemurahan dan kasih sayang Allah SWT. Kita memang tak punya modal atau andil apapun dalam kehidupan ini. Karenanya, bersyukur dan berterima kasihlah pada Allah atas semuanya.

Kalaupun ada amal-amal kebaikan yang kitalakukan dalam hitup, itu juga tak pernah lepas dari karunia Allah dan dengan pertolongan-Nya. Karena kita pasti beramal dengan pendengaran, penglihatan, pikiran, kekuatan, kesehatan, anggota tubuh, yang semuanya semata-mata adalah nikmat dan karunia Allah. Pantas dan sangat agung sekali perkataan Ahli surga yang dikutip Al Qur`an: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (QS. Al A'raf : 43). Mereka bersyukur pada Allah yang telah membimbing mereka melakukan amal-amnal shalih dan memasukkan mereka ke dalam kenikmatan surga yang abadi.

Karena itu saudaraku, Jangan pernah puas beramal. Jangan pernah berhenti beramal karena menengok dan menghitung amal dan ketaatan yang telah kita lakukan. Karena memperhatikan amal-amal kebaikan bisa menumbuhkan perasaan cukup dan kemudian menjadikan kita merasa puas. Padahal rasa puas itulah yang akan melemahkan semangat dan menghancurkan nilai-nilai amal itu sendiri. Ingatlah, kita tidak pernah tahu nilai dan kualitas amal itu di hadapan Allah SWT. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah perah menyinggung masalah ini. Katanya, setiap amal baik yang dilakukan, pasti ada bagian dari nafsu dan syetan di dalamnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW saat ia ditanya mengenai orang yang menoleh ke arah lain dalam shalatnya. Kemudian Rasul menjawab, "Itu adalah rampasan yang dilakukan syetan terhadap shalat seseorang..." (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai dan Al Hakim). Ibnu Mas'ud mengomentari hadits ini dengan mengatakan, "Bagian kecil dan sedikit itu dianggap sebagai keuntungan dan andil bagi syetan terhadap sholat seseorang. Bagaimana dengan amal-amal yang lainnya?"

Saudaraku, Ada alasan lain kenapa kita dianjurkan untuk tidak menghitung-hitung ketaatan dan kebaikan yang telah dilakukan. Seorang salafushalih pernah mengatakan, "Adakalanya seorang melakukan kesalahan kemudian lalu masuk surga dan adakalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu ia masuk neraka." Orang-orang yang mendengarkannya bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab, "Dia berbuat dosa dan dosa itu selalu tampak di matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan ia selalu teringat dengan dosanya itu lalu membuat hatinya hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan kepada Allah, sehingga keadaan itu menjadikannya selamat. Sementara orang yang melakukan kebaikan, selalu melihat kebaikan itu di depan matanya. Jika ia berdiri, duduk dan berjalan ia selalu ingat dengan kebaikan yag ia lakukan, sehingga ia menjadi takabbur ujub dan merasa telah mendapatkan karunia Allah SWT. Padahal kondisi itu menjadi sebab kebinasaannya.

Sungguh dalam makna perkatan yang diuraikan Ibnul Qayyim menanggapi perkataan salafushalih itu. "Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seseorang hamba, maka Dia bisa saja akan memberinya dosa yang membuat hatinya hancur, kepalanya merunduk, tidak ujub dan tidak takabbur sehingga dosa ini lebih bermanfaat dari sekian banyak ketaatan. Taubatnya inilah yang akan menyelamatkannya. Seperti obat yang diminum untuk mengeluarkan penyakit di dalam tubuh."

Dikutip dari Majalah Tarbawi edisi 39

sumber : eramuslim

Sabtu, 15 Januari 2011

U are So Special Person

Suatu haRi seoRang pembicaRa teRkenaL membuka seminaRnya denGan caRa yanG unik.

SambiL memeGanG uanG pecahan Rp. 100. 000,- ia beRtanya kepada hadiRin,

"Siapa yanG mau uanG ini?" Tampak banyak tanGan diacunGkan. PeRtanda banyak peminat.

"Saya akan beRikan ini kepada saLah satu daRi Anda sekaLian, tapi sebeLumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia beRdiRi mendekati hadiRin. UanG itu diRemas-Remas denGan tanGannya sampai beRLipat2.

LaLu beRtanya Lagi, "Siapa yanG masih mau uanG ini?"

JumLah tanGan yanG teRacunG tak beRkuRanG.

"BaikLah," jawabnya, "Apa jadinya biLa saya meLakukan ini?" ujaRnya sambiL menjatuhkan uanG itu ke Lantai dan menGinjak2nya denGan sepatunya.

Meski masih utuh, kini uanG itu jadi amat kotoR dan tak muLus Lagi.

"Nah, apakah sekaRang masih ada yanG beRminat?"

TanGan-tanGan yanG menGacunG masih tetap banyak.

"HadiRin sekaLian, Anda baRu saja menGhadapi sebuah peLajaRan pentinG.

Apapun yanG teRjadi denGan uanG ini, anda masih beRminat kaRena apa yanG saya Lakukan tidak akan menGuRanGi niLainya. BiaRpun Lecek dan kotoR, uanG itu tetap beRniLai Rp. 100.000,00.

DaLam kehidupan ini kita peRnah bebeRapa kaLi teRjatuh, teRkoyak, dan beLepotan kotoRan akibat keputusan yanG kita buat dan situasi yanG meneRpa kita.

DaLam kondisi sepeRti itu, kita meRasa tak beRhaRGa, tak beRaRti.

PadahaL apapun yanG teLah dan akan teRjadi, Anda tidak peRnah akan kehiLangan niLai di mata meReka yanG mencintai Anda, teRLebih di mata TUHAN.

JanGan peRnah Lupa - Anda SPESIAL...!!!

Minggu, 09 Januari 2011

Biarkan Allah yang Menilaimu

Terkadang orang berfikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois, tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila Engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu.

Biarkan Allah yang Menilaimu


Terkadang orang berfikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois, tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila Engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu.

Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.

Apabila Engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu.

Tetapi,.. teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu.

Tetapi,.. tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja.

Tetapi,..janganlah berhenti, tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kebahagiaan dan kedamaian di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu.

Tetapi,..tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin besok akan di lupakan orang.

Tetapi,..teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan mungkin itu tidak akan pernah cukup.

Tetapi,..tetap berikanlah yang terbaik.

Apabila engkau mencintai seseorang dengan ikhlas dan tanpa pamrih, mungkin ia tidak akan berbuat seperti apa yang engkau lakukan.

Tetapi tetaplah mencintainya tanpa pamrih, karena Allah maha mengetahui dan maha adil, lagi bijaksana, hakim dari segala hakim.

Sadarilah bahwa semua yang engkau katakan, dan lakukan itu ada diantara engkau dan Tuhanmu. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pikir dan pedulikan apa yang engkau lakukan atas orang lain, dimana orang lain akan berfikir atas perbuatan baik yang kau lakukan.

Tetapi percayalah bahwa, mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan berbuat baik. Dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

"Yang dinamakan Muslim itu , adalah apabila muslim lainnya selamat dari keburukan lidah dan tangannya". (Al Hadist)

"Takwalah kamu pada Allah dimana saja kamu berada, dan lakukanlah perbuatan baik, untuk menipiskan perbuatan burukmu, yang akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. (Al Hadits)

"Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikannya jalan keluar yang terbaik, dan akan memberikan rezeki padanya dari sumber yang tidak ia sangka-sangka". (Al Qur'an).

Jumat, 24 Desember 2010

Persatuan Dalam Islam

PERSATUAN DALAM ISLAM


Oleh
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari

URGENSI PERSATUAN ISLAM
Persatuan Islam termasuk dari maqoshid syar'iyyah (tujuan syari’at) yang paling penting yang terkandung dalam agama ini. Al Qur`an dan Rasulullah senantiasa menyerukannya. Persatuan dalam masalah aqidah, ibadah, dan akhlak, semuanya diperhatikan dan diserukan oleh Islam. Diharapkan akan terbentuk persatuan di atas petunjuk dan kebenaran. Bukan persatuan semu, yang tidak ada kenyataan, karena tidak ada faidahnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala satu, Nabi kita satu, kiblat dan aqidah kita juga satu, ini semua termasuk dari salah satu sisi persatuan dalam berakidah. Begitu juga persatuan dalam masalah ibadah. Kita dapat melihat, bagaimana kaum Muslimin berkumpul setiap harinya sebanyak lima kali di masjid-masjid mereka; ini adalan salah satu fonemena dari persatuan. Juga bagaimana mereka berkumpul dengan jumlah yang lebih besar pada setiap hari Jum'at, berpuasa secara serempak di seluruh penjuru dunia dalam waktu yang sama, atau mereka saling memanggil ke suatu tempat bagi orang yang mampu untuk melaksanakan kewajiban haji, dengan menggabungkan usaha harta dan badan di satu tempat dan waktu yang sama; ini semua adalah bagian dari fonemena persatuan Islam di dalam mewujudkan hakekat akidah yang terbangun atas dasar tauhid. Karena sesungguhnya persatuan kalimat tidaklah akan menjadi benar, melainkan dengan kalimat tauhid, dengan fenomena persatuan akidah dan ibadah seperti yang telah ditunjukkan di atas.

Sebenarnya telah ada fonemena persatuan di dalam perilaku kaum Muslimin, antara satu dengan yang lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur" [1].

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya."[2]

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

"Salah seorang dari kalian tidak beriman (dengan sempurna, Red) sampai ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya dengan apa yang dia dicintai dirinya" [3].

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya".

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

"Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)".

Semua ini adalah pemandangan yang mengkuatkan dan menyatukan hati, menghantarkan kepada anggota tubuh lainnya. Bahkan apabila kita memperhatikan firman Allah :

"Demi masa. Sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran". [al ‘Ashr : 1-3].

Jika kita memperhatikan firman Allah di atas (yang artinya) “dan mereka saling memberikan nasihat ”, ini juga termasuk fonemena persatuan. Karena saling menasihati tidak akan terjadi pada satu orang saja, akan tetapi terjadi pada suatu kelompok antara satu dengan yang lain, saling mengingatkan, menasehati dan saling meluruskan.

Allah berfirman:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai". [Ali Imran: 103]

Ini juga fonemena persatuan. Berpegang teguhlah dengan tali persatuan, kesatuan dan kebersamaan.

CARA DAN LANDASAN MEWUJUDKAN PERSATUAN
Tetapi bagaimanakah cara mewujudkan persatuan dan atas dasar apa? Apakah kebersamaan dan berkelompok berdasarkan (persamaan) ras, negara, daerah, warna (kulit) atau bahasa? Ataukah berkumpul atas dasar agama?.

Pertama kali yang difirmankan Allah dalam ayat di atas:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ

Berpegang teguh dengan Tali Allah!

Yaitu dengan agama Allah, Kitab Allah, syariat Allah, dan Sunnah NabiNya. Allah tidak menyerahkan perkara (persatuan ini) pada akal, sehingga bisa memilih apa yang dikehendaki. Akan tetapi Allah menegaskan “berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah”.

Sesungguhnya firman Allah “berpegang teguhlah” telah mengandung makna, berkumpul dan bersatu, akan tetapi Allah menekankannya lagi sebagai tambahan penjelasan “berpegang teguhlah kamu semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai".

Terdapat tiga penekanan dalam satu nash [4], semuanya mempunyai makna persatuan dan kesatuan. Dan persatuan ini tidak akan terwujud, kecuali atas dasar tauhid diikat dengan tali Allah. Maka berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai.

Persatuan yang ada hendaknya atas dasar agama, akidah dan mengikuti Sunnah Rasulullah. Makna ini telah dijelaskan dalam banyak nash. Di antaranya firman Allah dalam kitabNya :

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa" [al An’am :153]

Allah telah menjadikan jalanNya dibangun di atas Sunnah, yang mana ia adalah jalan Islam atau ditafsirkan dengan al Qur`an dengan segala kandungan hukum-hukumnya, yang di dalamnya terdapat argumen dan penjelasan. Allah berfirman (artinya): Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)!

Tatkala Rasulullah bersama para sahabatnya, ia menggaris di atas tanah garis yang lurus dan menggariskan garis-garis lain di kanan dan kirinya. Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjuk garis lurus tersebut seraya berkata: “Ini adalah jalan Allah”. Dan beliau menunjuk garis-garis yang bercabang di kanan dan di kirinya dengan mengatakan: ”Ini adalah jalan-jalan sesat, di setiap ujung jalan-jalan ini terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat ini (QS al An’am : 153). [5]

Oleh karena itu, setiap hawa-nafsu, pendapat, bid'ah dan perkara baru (dalam agama), pemikiran yang menyeleweng dan jauh dari al Kitab dan as Sunnah, jauh dari dalil dan hujjah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

"Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenarannmu jika kamu orang-orang yang benar". [an Naml : 64].

Itu semua memisahkan dan menjauhkan dari kebenaran yang ada, serta mengikuti hawa nafsu belaka.

Seorang hamba diperintahkan untuk mengikuti perintah Allah dan RasulNya, agar ia menjadi seorang hamba yang mengikuti jalan Allah yang lurus. Bagaimana dia tidak mengamalkan perintah ini? Dan bagaimana mungkin ia tidak ingin melakukan dan berusaha untuk mengikutinya? Sementara ia telah berdo’a siang dan malam kepada Rabb-nya dalam setiap shalatnya, minimal 17 kali dengan mengatakan :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus". [Al Fatihah:6]

Bagaimana mungkin ia meminta hidayah untuk ditunjukkan jalan yang lurus? Padahal ia sendiri menyelisihi dan mengikuti hawa nafsunya, mengikuti perkara-perkara baru (dalam agama), mengikuti fikiran dan akal yang dangkal dan kurang sehat.

Allah telah menjadikan hidayah kepada jalan lurus ini terikat dengan dua perkara:

Pertama dan yang paling penting adalah, taat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah, di dalam kitab yang menerangkan syarat hidayah ini:

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

"Dan jika kamu ta'at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk". [an Nuur : 54].

Dan ketaatan ini tidak akan bisa dilakukan dengan sempurna oleh seseorang, kecuali bila ia beriman sebagaimana para sahabat beriman, bermanhaj dan berpaham seperti manhaj dan pemahaman para sahabat, sebagaimana firman Allah:

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali". [an-Nisa':115]

Bahkan Allah Azza wa Jalla mengaitkan syarat hidayah dengan keimanan sebagaimana keimanan para sahabat. Allah Azza wa Jalla berfirman :

"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk". [al Baqarah : 137].

Maksudnya, apabila mereka beriman -yakni orang-orang setelah kalian- seperti iman kalian terhadapnya, yakni seperti para sahabat Rasul, maka mereka akan mendapatkan hidayah. Ini adalah syarat dan pondasi pokok. Apabila hilang syarat ini, maka janji dan hasil yang dikatakan serta permintaaan kita terhadap hidayah tidak ada faidahnya dan sia-sia belaka.

Dengan ini semuanya, hendaknya kita mengoreksi diri dengan segala apa yang kita lakukan, kita pikirkan dan kita bicarakan. Sehingga kita akan tetap terus berada di atas jalan Allah yang lurus untuk terus melakukan ketaatan kepadaNya, mengikuti kebenaran, untuk menuju kebenaran, yaitu Sunnah Nabi kita.

Terdapat dalam Sunnah Rasulullah yang menyebutkan secara jelas tentang gambaran dan ibrah perpecahan yang ada, ia Shallallahu 'alaihi wa sllam bersabda :

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً , قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هي الجماعة (وفي رواية) هِيَ التي مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

"Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya,“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Satu golongan itu adalah jama’ah.” (Dalam riwayat lain): “Mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan yang pernah aku tempuh”.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

"Al jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab"

Ini semua menunjukkan penekanan terhadap makna persatuan umat. Dan persatuan ini tidak akan terbangun kecuali di atas kebenaran yang berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, di atas manhaj para sahabat Rasul yang masih belum terlumuri dengan perkara- perkara bid'ah dan kesesatan. Para sahabat adalah manusia paling baik hatinya dibandingkan manusia lain, paling dalam ilmu, paling besar kecintaan dan ittiba` kepada Rasulullah. Karena kecintaan yang murni adalah kecintaan yang terbangun di atas ittiba`, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Ali Imran : 31].

Jadi, asas cinta kepada Rasulullah adalah ittiba’ (mengikuti) rasul dalam segala ajarannya.

Adapun kecintaan yang dibarengi dengan penyelewengan, rasa cinta dan melakukan bid'ah, maka hal ini tidaklah akan bertemu. Sebagaimana perkataan syair:

Kamu bermaksiat kepada Rasul, dan kamu mengaku mencintai beliau
Demi Allah, ini adalah permisalan yang sangat jelek.

Persatuan dalam Islam terbangun atas tauhid, ittiba` Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan manhaj Salaf dari para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin yang merupakan manusia terbaik, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

خَيْرُالناس قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

"Sebaik-baik manusia adalah manusia pada zamanku, kemudian yang berikutnya dan berikutnya".

Dan ada tambahan di selain Shahihain :

ثُمَّ يَأْتِي أَقْوَامٌ لاَ خَيْرَ فِيْهِمْ

"Kemudian datang suatu kaum yang tidak ada kebaikan di dalamnya".

Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena kaum ini telah menyelisihi manhaj generasi terbaik yang telah mengikuti dan berjalan di atas petunjuk Rasul. Maka dicabutlah kebaikan dari mereka sesuai dengan penyelewengan mereka dari para salaf.

Persatuan dalam Islam adalah hal utama yang diminta dari umat, dan wajib bagi kita terus bersemangat untuk merealisasikannya, menjalankan dan menyerukan persatuan tersebut.

Di dalam al Qur`an banyak contoh yang menerangkan kepada kita hakikat persatuan, antara ada dan tiada.

Contoh yang menjelaskan, bagaimana persatuan dalam berakidah dan manhaj yang benar telah menjadikan satu orang bisa dianggap satu jamaah. Dan contoh yang menjelaskan, bagaimana kelemahan dan kegagalan bisa menjadikan suatu jamaah dianggap seperti satu orang, bahkan individu-individu yang saling bertikai antara satu dengan yang lainnya, Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang bapaknya para nabi, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam :

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif". [an Nahl : 120].

Padahal beliau Alaihissallam hanya seorang diri. Akan tetapi, seakan ia bagaikan satu umat, umat yang menjadi panutan atau umat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Allah menyebutkan mencotohkan lawan dari sebelumnya, gambaran dari sifat teman-teman kera, babi yang telah membunuh para nabi, menyelewengkan aqidah yang benar dan merubah agama mereka. Dalam firmanNya, Allah mengkabarkan :

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى

"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah". [al Hasyr : 14].

Kemudian contoh ketiga adalah gambaran untuk para sahabat nabi, yang mana persatuan mereka adalah anugerah dari Rabb mereka, karena mereka sebaik-baik orang yang telah melanjutkan tongkat estafet kebenaran setelah para nabi, semoga Allah meridhai mereka semua. Allah berfirman :

"Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka". [al Anfal : 63].

Sungguh, hati dan badan-badan mereka saling bersatu. Dalam firman Allah "kalau seandainya kalian menginfakkan seluruh isi dunia", hal ini termasuk mengaitkan sesuatu dengan hal yang mustahil bagi seorang manusia untuk melakukannya, karena tidak mungkin ada seseorang yang bisa menginfakkan semua itu, baik emas, uang dan barang berharga lainnya.

Kalaupun kamu bisa menginfakkan itu semua, maka kamu tidak akan dapat menyatukan hati mereka, hati-hati mereka akan tetap bercerai-berai.

Bangsa Arab sebelum Islam termasuk dari umat yang tidak punya persatuan, bahkan tidak dikenal kecuali dengan peperangan di antara mereka dan saling membanggakan diri satu sama lain di dalam perkara atau sebab yang banyak. Peperangan-peperangan ini merupakan bukti kuat, bahwa bangsa Arab sebelum Islam tidaklah berarti. Kemudian datang Islam, turun kepada mereka al Qur`an dan petunjuk yang benar, serta diutusnya Rasul Allah yang haq, merupakan nikmat dari Allah dan Ia pun menyatukan hati-hati mereka.

Bagian awal dari ayat, Allah Azza wa Jalla menyebutkan “kamu tidak akan dapat menyatukan hati-hati mereka”, lalu di bagian akhir disebutkan “akan tetapi Allah menyatukan mereka". Allah telah menganugerahkan kepadamu, sesuatu yang lebih besar dari yang engkau inginkan. Engkau ingin menyatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah menganugerahkan penyatuan hati dan badan. Tidak hanya hati mereka, bahkan Allah telah menyatukan di antara mereka (hati dan badan mereka), sehingga itu merupakan anugerah umatnya dari Allah, dengan bergabungnya antara persatuan dengan tauhid. Allah berfirman :

وَمَابِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)". [an Nahl : 53].

Dan firmanNya :

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوهَا

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya". [Ibrahim : 34].

Pembicaraan masalah persatuan dan kesatuan umat sangatlah luas, dalil-dalil yang berkenaan dengan itu juga sangat banyak, akan tetapi karena perbedaan kaumlah yang telah melupakan satu dengan yang lainnya.

Karena itu aku tutup pembicaraan ini dengan mengingatkan hadits Tamim ad Daariy, ia berkata: bersabda Rasulullah :

الدِّينُ النَّصِيحَةُ ثَلَاثَ مِرَارٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

"Din (agama) ini adalah nasihat" (tiga kali). Para sahabat bertanya : “Nasihat bagi siapa, wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab,"Nasihat terhadap Allah (maksudnya dengan mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan niat dalam beribadah, Red), nasihat terhadap kitabNya (maksudnya, dengan mengimaninya dan mengamalkan isinya, Red), nasihat terhadap para pemimpin kaum Muslimin (maksudnya, dengan mentaati mereka dan tidak memberontak) dan nasihat bagi kaum Muslimin secara umum".

Juga, tauhid mengantarkan kepada tauhid (persatuan), persatuan akidah menyeru kepada persatuan kata. Sehingga mereka saling bersatu sebagaimana yang diperintahkan Allah k . Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan saling membantu dalam hal dosa dan permusuhan.

Di suatu hadits Abdullah bin Jarir berkata : Rasullah bersabda,"Baaya`na Rasulullah ala sami wa toat … … wannush likulli muslim". ia menambahkan,"Rasulullah membebankan kepada kita dengan apa yang kita mampu".

Semuai ini bertujuan untuk mengagungkan persatuan dalam jiwa-jiwa. Dan hendaknya diketahui, bahwa hak saudaramu padamu, sama seperti hakmu pada mereka. Dan sesungguhnya tidaklah sempurna iman seseorang, sampai ia mencintai bagi saudaranya dengan apa yang ia cintai untuk dirinya.

Renungkanlah, betapa indahnya tatanan masyarakat ini, yang saling mencintai satu sama lain, saling menolong, mengingatkan, menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar, dengan penuh kecintaan, kasih-sayang, rahmat dan kelembutan. Membayangkan bagaimana bersatunya masyarakat dengan menampakkan persatuan kata yang hanya dilandasi atas persatuan tauhid.

Saya berdoa kepada Allah agar menyatukan kaum Muslimin di atas Kitab dan Sunnah RasulNya, menjauhkan dari segala fitnah yang ada, baik yang nampak atau yang tidak, menghilangkan setiap bentuk kesyirikan, bidah dan perbedaan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". [al Anfal : 46].

Firman Allah :

"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka". [Ar Ruum : 31-32]

Allah telah menjadikan sikap perpecahan sebagai ciri dari orang musyrik; bertauhid dan bersatu sebagai ciri dari kaum Mukminin. Semoga Allah menjadikan kita semua dari orang-orang yang selalu berpegang teguh di atas kebenaran, mewafatkan kita di atasnya dan Sunnah RasulNya dengan tidak melakukan bid'ah, penyelewengan, kerusakan dan kehinaan. Maha suci Allah yang kuasa untuk melakukan ini semua.

Wasallahu 'alan nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wasahbihi ajma'in.
Wa akhiru dakwana alhamdulillhi rabbil 'alamin.
sumber: al-manhaj.or.id

Senin, 15 November 2010

Kemenangan dan Kekalahan

''Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu'.'' (Ali 'Imran: 26). Apa yang dikehendaki Allah SWT jadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan jadi. Manusia bisa merencanakan tetapi Allah jua yang menentukan. Silih bergantinya siang dan malam, kemenangan dan kekalahan, dan terjadinya perubahan menunjukkan kuasa Allah Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta serta keterbatasan kita sebagai manusia. Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah.'' (Yaa Siin: 82).

Kekalahan atau kegagalan adalah sesuatu yang paling tidak disukai banyak orang dan sulit untuk bisa diterima kecuali oleh orang-orang yang bijak dan berjiwa besar. Sebab, dia mampu melihat hikmah di balik fenomena yang terjadi. Ibarat orang yang menyelam, makin dalam dia menyelam akan semakin berpeluang mendapatkan mutiara.

Karena itu, 'memahami' kekalahan atau kegagalan, bila hanya mengandalkan syahwat indrawi, maka orang akan sering tertipu. Kegagalan atau kekalahan akan dirasakan sangat menyakitkan. Lalu, mengapa kita tidak mengambil hikmahnya? Bukankah kekalahan itu suatu kemenangan yang tertunda? Mungkin ada langkah-langkah kita yang salah, atau mungkin juga ini peringatan Allah agar kita bisa mawas diri dan menemukan yang lebih baik. Kata Rasulullah SAW, ''Dunia (kekuasaan) menurut sifatnya meninggalkan dan ditinggalkan.'' Dengan kata lain, dunia (kekuasaan/jabatan/kedudukan) tidak ada yang kekal, semua akan berubah silih berganti, datang dan pergi.

Itulah yang namanya dunia. Karena itu, kalau kita hanya silau pada kesenangan dan kenikmatan dunia, yang kita jumpai pasti hal yang tidak pasti, semu, bahkan menyakitkan. Mungkin dengan kekalahan atau kegagalan itu agar kita mau tersadar dan menundukkan kepala, barangkali kita selama ini selalu menengadah angkuh. Di sisi lain kemenangan atau keberhasilan adalah sesuatu yang tentu sangat menyenangkan. Karena menyenangkan, orang terkadang menjadi lupa diri.

Kemenangan lalu diekspresikan dengan kesombongan, congkak, dan bahkan lupa diri kepada yang memberi nikmat. Padahal, semua nikmat yang Allah berikan ada tanggung jawab dan konsekuensinya. Umar bin Abdul Aziz ketika dibaiat sebagai khalifah bukan merasa senang, tetapi justru bersedih seraya berucap, ''Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.'' Agaknya, beliau tahu betul di balik pengangkatan dirinya itu ada tanggung jawab yang besar di pundaknya sebagai amanah yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan di hadirat Allah SWT kelak.

Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ''Kekuasaan itu bagai ular berbisa, lembut disentuhnya tetapi tetap dia berbisa.'' Wallahu a'lam. (Abul Hidayat Saerodjie)


republika

Jumat, 12 November 2010

Berawal Dari Mimpi

Kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin
(Imam Asy Syahid Hasan Al Banna)
Sahabatku…
Jika engkau mau membaca sejarah biografi tokoh-tokoh ternama. Maka engkau akan temukan bahwa apa yang telah mereka ciptakan berawal dari mimpi.

Ketika aku mencari nama orang yang bisa mengenali dan menghidupkan impiannya, saya berpikir tentang visioner dan pioner mobil Henry Ford. Dia menyatakan, “Semua rahasia hidup yang berhasil adalah menemukan apa yang ditentukan nasib pada kita, dan kemudian melakukannya.”

Orang-orang lainnya berani bermimpi dan mereka sukses. Beethoven menyadarkan dunia akan kemampuan hebatnya dalam musik ketika dia membuat sejumlah simfoni, dan ini terjadi setelah dia kehilangan pendengarannya. Charles Dickens dulunya bermimpi untuk menjadi seorang penulis dan akhirnya dia menjadi novelis yang bukunya paling banyak dibaca orang di Inggris pada zaman Victoria - meskipun dia dilahirkan di keluarga miskin.

Thomas Edison melamunkan sebuah lampu yang bisa dihidupkan dengan listrik, memulai dari tempat ia berdiri untuk mengubah impiannya menjadi tindakan. Dan walaupun dia menemui lebih dari sepuluh ribu kegagalan, dia tetap memegang teguh impiannya sampai dia menjadikannya sebuah kenyataan fisik. Pemimpi praktis pantang menyerah!

Wright bersaudara memimpikan sebuah mesin yang bisa terbang di udara. Sekarang setiap orang bisa melihat bukti di seluruh dunia bahwa impian mereka menjadi kenyataan.

Marconi memimpikan satu sistem untuk mengendalikan kekuatan ether yang tidak kelihatan. Bukti bahwa impiannya tidak sia-sia bisa ditemukan pada setiap pesawat radio dan televisi di seluruh dunia. Mungkin Anda tertarik untuk mengetahui bahwa “teman-teman” Marconi menyuruh agar dia di kurung dan di periksa di sebuah rumah sakit jiwa ketika ia mengumumkan bahwa dia telah menemukan prinsip yang bisa digunakan untuk mengirim berita melalui udara tanpa bantuan kabel atau sarana fisik komunikasi langsung lainnya.

Menurut Jhon C. Maxwell sebuah impian bisa melakukan banyak hal kepada kita:
Pertama, impian menunjukkan arah kepada kita. Ia bisa berperan sebagai kompas, memberitahu kita arah mana yang harus ditempuh. Hingga kita mengenali arah yang benar itu, kita tidak akan pernah mengetahui apakah langkah kita benar-benar merupakan kemajuan. Langkah kita mungkin membawa kita ke belakang dan bukan ke depan. Jika engkau bergerak ke sembarang arah selain menuju impianmu, engkau akan kehilangan kesempatan-kesempatan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Kedua, impian meningkatkan kekuatan kita. Tanpa impian, kita mungkin harus berjuang keras untuk melihat kekuatan yang ada dalam diri kita karena kita tidak bisa melihat situasi di luar keadaan kita saat ini. Akan tetapi dengan impian, kita mulai memandang diri kita dalam cahaya baru, karena mempunyai kekuatan yang lebih besar dan mampu merentangkan dan berkembang untuk mencapainya. Setiap kesempatan yang kita temui, setiap sumber yang kita dapatkan, setiap talenta yang kita kembangkan, menjadi bagian kekuatan kita untuk tumbuh ke arah impian itu. Semakin besar impian, semakin besar pula kekuatannya.

Ketiga, impian membantu kita menentukan prioritas. Impian memberi kita harapan untuk masa depan, dan ia juga memberi kita kekuasaan di saat ini. Impian membuat kita memprioritaskan segala sesuatu yang kita lakukan. Seseorang yang memiliki impian mengetahui apa yang akan atau harus dikorbankannya agar bisa maju. Dia mampu mengukur segala sesuatu yang dikerjakannya apakah membantu atau menghambat impian itu, memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang membawanya lebih dekat pada impian itu dan memberi sedikit perhatian pada hal-hal sebaliknya.

Keempat, impian menambah nilai pada pekerjaan kita. impian menempatkan segala yang kita lakukan ke dalam perspektif. Bahkan tugas-tugas yang tidak menyenangkan menambah nilai saat kita mengetahui hal itu memberi kontribusi pada pemenuhan impian. Setiap aktivitas menjadi bagian penting di dalam gambar yang lebih besar itu.

Kelima, impian meramal masa depan kita. ketika kita mempunyai impian, kita bukan hanya penonton yang duduk di belakang dan mengharapkan segala sesuatu berubah membaik. Kita harus aktif ikut serta dalam membentuk tujuan dan arti hidup kita. Angin perubahan tidak begitu saja meniup ke sini dan ke sana. Impian kita, ketika dilanjutkan, mungkin sekali merupakan peramal masa depan kita.

Sahabatku…
Ada perbedaan antara mengangankan suatu benda dan siap menerimanya. Tidak ada seorang pun siap untuk sesuatu sampai dia yakin akan memperolehnya. Keadaan pikiran harus penuh keyakinan bukan hanya berharap atau mengangankan. Keadaan pikiran yang terbuka sangat penting untuk keyakinan. Pikiran yang tertutup tidak mengilhamkan keyakinan keberanian, atau kepercayaan.

chandra


Myquran.com

Senin, 08 November 2010

Bosan Hidup

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu santai!

Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau.

Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu."

Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi.

Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. "Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda.

Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.

Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.

Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!

Hidup?

Bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul?. Tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati

(Soulfoul - Mulyandi, Soeng)

Jumat, 05 November 2010

JURU DAKWAH YANG TIDAK GENTAR

Di kampung Ar-Raji, dalam wilayah kekuasaan suku Huzail, para pedagang itu tiba-tiba melakukan pengurangan atas keenam sahabat Rasulullah s.a.w, sambil berseru meminta bantuan kaum Huzail. Keenam pendakwah itu dengan pantas menghunus senjata masing-masing dan siap mengadakan perlawanan, setelah insaf bahawa mereka tengah dijebak.
Para pedagang yang licik tadi berteriak, "Sabar saudara-saudara. Kami tidak bermaksud membunuh atau menganiayai kalian. Kami cuma mahu menangkap kalian untuk kami jual ke Makkah sebagai budak belian. Keenam sahabat Rasulullah s.a.w itu tahu nasib mereka bahkan lebih buruk daripada terbunuh dalam pertarungan tidak berimbang itu. Kerana mereka segera bertakbir seraya menyerang dengan tangkas.

Terjadilah pertempuran seru antara enam pendakwah berhati tulus dengan orang-orang yang beringas yang jumlanya jauh lebih besar. Pedang mereka ternyata cukup tajam. Beberapa orang lawan telah menjadi korban. Akhirnya tiga sahabat tertusuk musuh dan langsung gugur. Seorang lagi dibaling batu beramai-ramai hingga tewas. Bakinya tinggal dua orang; Zaid bin Addutsunah dan Khusaib bin Adi.
Apalah daya dua orang pejuang, betapa pun lincahnya perlawanan merek, menghadapi begitu banyak musuh yang tangguh ? Selang beberapa saat sesudah jatuhnya empat sahabat tadi, kedua orang itu dapat dilumpuhkan dan belenggu. Lalu mereka diangkut menuju pasar budak di Makkah. Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah. Ayah Shafwan, Umayyah bin Khalaf, adalah majikan Bilal dan Amir bin Fuhairah. Umayyah terkenal sangat kejam kepada budak-budaknya. Bilal pernah disalib di atas pasir dan dijemur di tengah teik matahari dengan badan ditindihi batu. Untung Bilal ditebus oleh Saiyidina Abu Bakar Assidiq dan dimerdekakan. Orang Habsyi ini kemudian terkenal sebagai sahabat dekat Rasulullah s.a.w. dan diangkat sebagai Muazin, tukang azan.

Dalam perang Badar, Umayyah bin Khalaf berhadap-hadapan dengan bekas budaknya itu. Dan Bilal berhasil membunuhnya dalam pertempuran yang sengit satu lawan satu. Adapun Khubaib bin Adi diambil oleh Uqbah bin Al-Harits dengan tujuan yang sama seperti maksud Shafwan membeli Zaid bin Abdutsunah. Iaitu untuk membalas dendam kebencian mereka kepada umat Islam.
Maka oleh orang-orang Quraisy, Zaid diseret menuju Tan'im, salah satu tempat untuk miqat umrah. DI sanalah Zaid akan dijalani hukuman pancung, buatkan sesuatu yang ia tidak pernah melakukannya, iaitu terbunuhnya Umayyah bin Khalaf, ayahanda Shafwan. Menjelang algojo menetak parangnya, pemimpin kaum Musyrikin Abu Sufyan bertanya garang, "Zaid bedebah, apakah engkau senang seandainya di tempatmu ini Muhammad, sedangkan engkau hidup tenteram bersama keluargamu di rumah ?"

"Janganlah begitu," bantah Zaid dengan keras. "Dalam keadaan begini pun aku tidak rela Rasulullah tertusuk duri kecil di rumahnya."
Abu Sufyan menjadi marah. "Bereskan," teriaknya kepada algojo. Dalam sekelip mata, sebilah parang berkilat di tengah terik matahari dan darah segar menyembur keluar. Zaid bin Abdutsunah gugur setelah kepalanya dipotong, menambah jumlah penghuni syurga dengan seorang syuhada' lagi. Di hati Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy lainnya timbul kehairanan akan kesetiaan para sahabat kepada Muhammad. Sampai tergamam di bibir Abu Sufyan ucapan kagum, "Aku tidak perna menemukan seorang yang begitu dicintai para sahabat seperti Muhammad."

Sesudah selesai pemancungan Zaid, datang pula rombongan lain yang menyeret Khubaib bin Adi. Sesuai dengan hukum yang berlaku di seluruh Tanah Arab, kepada pesalah yang dijatuhi qisas mati diberikan hak untuk menyampaikan permintaan terakhir. Demikian juga Khubaib. Juru dakwah yang bestari ini meminta izin untuk solat sunnah dua rakaat. Permohonan tersebut dikabulkan. Dengan khusyuk dan tenang, seolah-olah dalam suasana aman tenteram tanpa ancaman kematian, Khubaib melaksanakan ibadahnya sampai selesai. Setelah salam dan mengangkat dua tangan, ia berkata, "Demi Allah. Andaikata bukan kerana takut disangka aku gentar menghadapi maut, maka solatku akan kulakukan lebih panjang."

Khubaib disalib dahulu lalu dihabisi sepertimana dilaksanakan ke atas Zaid bin Abdutsunah. Jasadnya telah lebur sebagaimana jenazah lima sahabatnya yang lain. Namun semangat dakwah mereka yang dilandasi keikhlasan untuk menyebarkan ajaran kebenaran takkan pernah padam dari permukaan bumi. Semangat itu terus bergema sehingga makin banyak jumlah pendakwah yang dengan kekuatan sendiri, atas biaya peribadi, menyelusup keluar-masuk pedalaman berbatu-batu karang atau berhutan-hutan belantara buat menyampaikan firman Tuhan menuju keselamatan
Powered By Blogger
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...