Iqro Club Mataram, The New Moslem Generation
iqro club kota mataram. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Assalamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh, Selamat Membaca Artikel IC Mataram

Senin, 22 November 2010

Canda Rasulullah

Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam adalah seorang pemimpin yang sangat memperhatikan urusan umat dan seluruh pasukannya. Beliau juga sangat perhatian terhadap bawahan serta anggota keluarga. Disamping itu beliau juga tetap menjaga amal ibadah serta wahyu yang diturunkan. Dan banyak lagi urusan lain yang beliau perhatikan.
Sungguh merupakan amal yang sangat agung dalam rangka memenuhi tuntutan kehidupan dan membangkitkan motivasi, yang tidak akan mampu dilaksanakan oleh sembarang orang. Namun Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam meletakkan setiap hak pada tempatnya. Beliau tidak akan mengurangi hak orang lain atau meletakkan hak tersebut tidak pada tempatnya. Meskipun sangat banyak beban dan pekerjaan, namun beliau tetap memberikan tempat bagi anak-anak kecil dihatinya. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjawab: “Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Ahmad).

Anas Radhiallaahu anhu menceritakan kepada kita salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah memanggilnya dengan sebutan: “Wahai pemilik dua telinga!” (maksudnya bergurau dengannya). (HR. Abu Dawud).
Anas Radhiallaahu anhu mengisahkan: “Ummu Sulaim Radhiallaahu anha mempunyai seorang putra yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam lantas bercanda dengannya, beliau berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Daud).

Demikian pula dengan para sahabat Radhiallaahu anha, salah satu di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sangat menyukainya. Hanya saja tampangnya jelek. Pada suatu hari, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menemuinya sewaktu ia menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memeluknya dari belakang sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Ia pun berkata: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?” Ia pun berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kalau demikian aku tidak akan laku dijual!” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membalas: “Justru engkau di sisi Allah Subhannahu wa Ta’ala sangat mahal harganya!” (HR. Ahmad).
Sungguh merupakan akhlak yang terpuji dari baginda Nabi yang mulia dan luhur budi pekertinya Shallallaahu alaihi wa Salam. Meskipun beliau bersikap luwes terhadap keluarga dan kaumnya, namun tetap ada batasannya. Beliau tidaklah melampaui batas bila tertawa, beliau hanya tersenyum. Sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah Radhiallaahu anhu : “Belum pernah aku melihat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum.” (Muttafaq ‘alaih).

Meskipun beliau selalu bermuka manis dan elok dalam pergaulan, namun bila peraturan-peraturan Allah dilanggar, wajah beliau akan memerah karena marah. ‘Aisyah Radhiallaahu anhu menuturkan kepada kita: “Pada suatu ketika, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam baru kembali dari sebuah lawatan. Sebelumnya aku telah menirai pintu rumahku dengan korden tipis yang bergambar. Ketika melihat gambar itu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam langsung merobeknya hingga berubah rona wajah beliau seraya berkata: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah.” (Muttafaq ‘alaih).

sumber : alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkatalah Yang Baik Atau Diam.

Powered By Blogger
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...