Iqro Club Mataram, The New Moslem Generation
iqro club kota mataram. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Assalamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh, Selamat Membaca Artikel IC Mataram

Sabtu, 15 Januari 2011

Ki Hajar dan "Ki Hajar"

Istilah “Tut Wuri Handayani” tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena istilah tersebut tertera pada logo departemen yang mengurusi masalah pendidikan di Indonesia. Istilah tersebut lengkapnya berbunyi Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi contoh teladan yang baik), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberi semangat), Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dorongan).
Istilah di atas pertama kali diperkenalkan oleh Suwardi Suryaningrat yang pada akhirnya, agar lebih merakyat, mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Setelah dewasa, ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan di STOVIA Jakarta (sekolah calon dokter bangsa Indonesia) karena kecerdasan dan garis keturunannya yang berasal dari keluarga bangsawan. Meskipun jalur pendidikannnya bukanlah di bidang pendidikan, dan berasal dari golongan ningrat namun Ki Hajar sangatlah peduli terhadap nasib bangsa dan negaranya.

Pada masa itu, bangsa penjajah selalu merendahkan harkat dan martabat kaum pribumi. Hal itu mengusik hati Ki Hajar. Lalu ia beserta teman-temannya bertekad mengangkat nasib bangsanya melalui jalur pendidikan yaitu dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Atas segala jasanya terhadap pendidikan Indonesia, pemerintah RI menetapkan tanggal kelahirannya menjadi hari pendidikan nasional.

Walaupun Ki Hajar sudah meninggalkan bumi pertiwi, namun perjuangannya tidaklah berakhir, karena kini telah lahir Ki Hajar lain yang berjuang di bidang pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, seperti Mbah Dauzan Farook dan Ibu Daryati.

Di usianya yang sudah lanjut, Mbah Dauzan masih tetap bersemangat berjuang menebarkan ilmu kepada para calon pewaris negara ini dengan membangun dan mengelola perpustakaan keliling partikelir gratis miliknya di Yogyakarta yang bernama Mabulir (Majalah dan Buku Keliling Bergilir). Setiap hari ia berkeliling kota untuk mengedarkan berbagai macam buku dan majalah. Ia juga telah mendirikan 100 kelompok pembaca setia perpustakaan kelilingnya.

Ia tidak mendapatkan bantuan dari siapapun dalam mengelola perpustakaannya. Semua biaya ia tanggung sendiri dengan memakai uang pensiun yang ia terima setiap bulan sebagai mantan pejuang dalam perang kemerdekaan.

Kini di alam kemerdekaan, perjuangannya tidaklah surut. Perjuangan membangun manusia Indonesia menjadi pilihannya, setelah terlebih dahulu berjuang mempertahankan bangunan negara tercintanya.

Sorang ibu setengah baya (sebut saja Ibu Daryati) yang tinggal di daerah pesisir pantai Kalimantan, di tengah aksi pendulangan sumber daya alam yang dahsyat, selama belasan tahun mengajar anak-anak para nelayan yang putus sekolah dengan kondisi ruangan kelas yang tidak layak di sebut sebuah ruangan. Selama belasan tahun itu pula ia berjuang sendirian tanpa ada pihak yang memperhatikan nasib ”sekolahnya” apalagi menggajinya.

Walaupun tidak mempunyai bekal ilmu yang banyak, namun ia berkeyakinan murid-muridnya yang merupakan korban arogansi para penjarah negara ini, termasuk dirinya, haruslah tetap mendapatkan pendidikan walaupun dengan caranya yang semampu ia bisa berikan.

Ki Hajar dan “Ki Hajar” di atas adalah contoh anak bangsa yang berjuang membangun tanah air melalui penebaran ilmu walaupun latar belakang mereka bukanlah dari jalur pendidikan. Keyakinan bahwa bangsa ini akan bangkit melalui pendidikan lah yang melatarbelakangi tekad mereka dalam turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa,walaupun hal itu harus mengorbankan waktu, pikiran dan harta mereka.

Dengan tidak adanya perhatian dari pemerintah dalam hal pendidikan sangatlah sulit menjadi seorang “Ki Hajar.” Namun segala ketulusan membangun bangsa inilah bermulanya semangat para “Ki Hajar” di atas.

Bangsa ini terpuruk karena selama puluhan tahun para pemangku jabatannya lebih mengejar angka-angka pertumbuhan ekonomi dengan melupakan sisi pembangunan manusianya. Lihatlah contoh bangsa lain yang ambruk atau kehilangan kekuatannya karena melupakan bidang pendidikan, seperti Spanyol yang pernah mencapai masa kejayaan karena kualitas manusianya. Dan lihatlah contoh bangsa lain yang dulunya lemah menjadi kuat karena memprioritaskan pendidikan warganya, seperti negara-negara yang sekarang di sebut negara maju.

Masalah pendidikan kita yang paling mendasar adalah merosotnya kualitas manusia Indonesia baik dari segi prestasi akademis, keahlian dan moral. Sudah saatnya pemerintah sebagai pihak yang sangat berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa membuat program pendidikan yang tepat guna dan berkesinambungan, serta menjalankanya dengan segala kesungguhan. Karena maju mundurnya suatu bangsa tergantung dari sumber daya manusianya.

Juga sangat baik bagi para “Ki Hajar” lainnya untuk selalu mengamalkan semboyan pendidikan bangsa Indonesia yang telah didengungkan oleh Ki Hajar 83 tahun yang lalu kepada para anak didiknya, yaitu hendaknya seorang pendidik menjadi suri tauladan, pemberi semangat dan pendorong bagi murid-muridnya.

“Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari,kamu harus terbang.” Sebuah prinsip yang ditanamkan sejak kecil kepada orang-orang Korea Selatan, agar selalu berada selangkah di depan.

"Kita belajar: 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan" Dr. Vernon A Magnesen.

Iswanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkatalah Yang Baik Atau Diam.

Powered By Blogger
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...